Ilustrasi Ganti Oli Motor. Oli mesin adalah salah satu komponen terpenting dalam kendaraan, karena berperan melumasi, mendinginkan, dan melindungi komponen mesin dari keausan. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak mitos tentang oli mesin yang masih dipercaya, meskipun sebenarnya tidak akurat. Dari merek oli hingga frekuensi penggantian, kesalahpahaman ini bisa membuat pemilik kendaraan menghabiskan lebih banyak uang atau bahkan melakukan perawatan yang kurang efektif. Berikut VIVA rangkum dari SlashGear Senin, 22 Desember 2025, lima mitos oli mesin yang paling populer beserta fakta sebenarnya: VIVA Otomotif: Ilustrasi oli atau pelumas mesin 1. Mengganti Merek Oli Bisa Merusak MesinMitos: Banyak orang percaya bahwa jika mengganti merek oli, mesin bisa mengalami masalah karena formula oli berbeda-beda. Fakta: Aman mengganti merek oli selama oli baru memenuhi spesifikasi yang dianjurkan pabrikan kendaraan, termasuk viskositas (kekentalan) dan rating API atau ILSAC. Mesin modern dirancang agar dapat bekerja dengan berbagai merek oli yang memenuhi standar ini. Jadi, mengganti merek tidak otomatis berbahaya, yang penting adalah memilih oli sesuai kebutuhan mesin, bukan sekadar tetap pada satu merek. Contoh: Jika mobilmu membutuhkan oli SAE 5W-30 dengan rating API SN atau ILSAC GF-6, semua oli yang memenuhi kriteria ini aman dipakai, meskipun mereknya berbeda.2. Mengganti Oli Sendiri Bisa Membatalkan GaransiMitos: Ada anggapan bahwa mengganti oli sendiri akan membatalkan garansi kendaraan.Fakta: Ini salah kaprah. Di Amerika Serikat, misalnya, Magnuson-Moss Warranty Act melindungi konsumen agar tidak kehilangan garansi hanya karena melakukan perawatan sendiri.Selama oli yang digunakan sesuai spesifikasi pabrikan, dan catatan servis disimpan dengan baik, garansi tetap berlaku. Jadi, pemilik kendaraan memiliki hak untuk melakukan penggantian oli sendiri tanpa risiko kehilangan perlindungan garansi.3. Oli Lebih Tebal atau Lebih Tipis Selalu Lebih BaikMitos: Oli yang lebih kental selalu lebih melindungi mesin, atau oli lebih tipis selalu meningkatkan performa.Fakta: Mesin dirancang untuk menggunakan oli dengan kekentalan tertentu. Oli terlalu kental bisa membuat mesin sulit beroperasi, meningkatkan panas, dan mempercepat keausan. Oli terlalu tipis bisa mengurangi tekanan pelumasan dan melindungi mesin dengan tidak optimal.Pemilihan oli yang tepat harus mengikuti rekomendasi pabrikan untuk memastikan mesin tetap awet dan performa tetap optimal.Tips: Periksa manual kendaraan untuk mengetahui spesifikasi oli yang direkomendasikan. Ini lebih penting daripada mengikuti anggapan bahwa “lebih kental lebih baik.”4. Oli Sintetik dan Konvensional Tidak Boleh DicampurMitos: Menggabungkan oli sintetik dengan oli konvensional bisa merusak mesin.Fakta: Oli sintetik dan konvensional sebenarnya dapat dicampur tanpa masalah besar. Bahkan, ada oli “blend” yang merupakan campuran kedua jenis ini. Namun, oli konvensional biasanya lebih cepat rusak daripada oli sintetik, sehingga pencampuran ini dapat memperpendek interval penggantian oli.Catatan: Idealnya, gunakan satu jenis oli secara konsisten untuk menjaga performa optimal, tapi dalam kondisi darurat atau saat stok terbatas, pencampuran tidak membahayakan mesin.5. Oli Harus Diganti Setiap 3 Bulan atau 3.000 Mil Ilustrasi gambar pergantian oli mobilMitos: Masih banyak orang mengikuti aturan lama: ganti oli setiap 3 bulan atau 3.000 mil.Fakta: Dengan kemajuan teknologi oli dan kendaraan modern, interval penggantian oli kini jauh lebih panjang. Oli full sintetik bisa bertahan hingga 10.000 mil (±16.000 km) atau sekitar satu tahun, sementara oli konvensional biasanya aman digunakan antara 5.000–7.500 mil (±8.000–12.000 km).Banyak mobil modern juga dilengkapi sistem pemantau kondisi oli yang menyesuaikan penggantian berdasarkan penggunaan nyata, bukan sekadar jarak tempuh atau waktu.Tips: Selalu periksa indikator kondisi oli atau komputer mobil modern untuk menentukan waktu penggantian oli yang paling tepat.Oli mesin mungkin terlihat sederhana, tetapi perannya vital bagi kesehatan mesin. Mitos yang beredar bisa membuat biaya perawatan meningkat atau bahkan menurunkan performa kendaraan jika dipraktikkan tanpa dasar fakta.