Saat melihat spesifikasi mobil baru, terutama kendaraan listrik, biasanya menemukan informasi jarak tempuh atau konsumsi energi yang diukur menggunakan standar WLTP atau NEDC. Keduanya sama-sama untuk mengukur efisiensi kendaraan. Namun, metode pengujian yang berbeda membuat angka konsumsi energi maupun jarak tempuh yang dihasilkan juga tidak sama. Karena itu, dilansir dari drive, penting untuk memahami arti WLTP dan NEDC agar tidak salah menafsirkan spesifikasi kendaraan yang tercantum pada brosur maupun materi promosi. NEDC NEDC (New European Driving Cycle) merupakan standar pengujian yang digunakan di Eropa dan terakhir diperbarui pada 1997. Sebuah mobil listrik BYD Seal DM-i dipamerkan di Pameran Otomotif Beijing di Beijing pada 25 April 2024. Metode ini dikembangkan untuk mengukur konsumsi bahan bakar, emisi gas buang, serta konsumsi energi kendaraan listrik dalam kondisi baru. Dilansir dari Drive, pengujian dilakukan di laboratorium menggunakan alat bernama dynamometer atau rolling road yang berfungsi mensimulasikan kondisi kendaraan saat melaju di jalan raya. Dalam pengujian NEDC, kendaraan menempuh jarak simulasi 10,9 kilometer dengan kecepatan rata-rata 34 kilometer per jam. Pengujian dibagi menjadi dua tahap, yaitu simulasi berkendara di area perkotaan (urban cycle) dan luar kota (extra urban cycle). Pada tahap perkotaan, kendaraan diuji dengan pola berhenti dan berjalan yang meniru kondisi lalu lintas kota. Sementara pada tahap luar kota, kendaraan dipacu hingga kecepatan maksimum sekitar 120 km per jam. BMW Group berhasil memproduksi 2 juta unit mobil listrik Selama pengujian berlangsung, seluruh perangkat yang dapat menambah beban kendaraan, seperti pendingin udara, lampu, dan sistem hiburan, dimatikan. Dari pengujian tersebut diperoleh angka konsumsi bahan bakar, emisi, dan konsumsi energi yang kemudian dicantumkan dalam spesifikasi kendaraan. WLTP WLTP merupakan singkatan dari Worldwide Harmonised Light Vehicles Test Procedure yang mulai diperkenalkan pada September 2017. Sejak September 2018, seluruh mobil baru yang dipasarkan di Eropa wajib menggunakan standar WLTP. Tujuan utama WLTP adalah menghasilkan data konsumsi bahan bakar, emisi, dan jarak tempuh yang lebih mendekati kondisi penggunaan kendaraan sehari-hari. Ilustrasi baterai mobil listrik Meski masih dilakukan di laboratorium, metode pengujiannya jauh lebih kompleks dibandingkan NEDC. Pengujian WLTP berlangsung selama 30 menit atau sekitar 50 persen lebih lama dibandingkan NEDC. Jarak simulasi yang ditempuh juga meningkat menjadi 23,35 kilometer. Selain itu, kecepatan rata-rata pengujian WLTP mencapai 46 km per jam, lebih tinggi dibandingkan NEDC yang hanya 34 km per jam. WLTP juga mempertimbangkan faktor-faktor yang sebelumnya tidak diperhitungkan secara detail, seperti ukuran pelek, ukuran ban, aerodinamika kendaraan, hingga bobot tambahan dari fitur opsional seperti sunroof. Dengan metode tersebut, hasil pengujian WLTP dinilai lebih mendekati kondisi penggunaan kendaraan di dunia nyata. Ilustrasi mobil listrik. Penjualan kendaraan listrik telah melonjak di Asia Tenggara imbas krisi minyak yang diakibatkan oleh perang Iran di Timur Tengah. Mana yang Lebih Akurat? Secara umum, WLTP dianggap lebih akurat dibandingkan NEDC. Sebab NEDC dinilai sudah tidak lagi mencerminkan kondisi berkendara saat ini karena seluruh pengujiannya dilakukan dalam kondisi laboratorium yang sangat ideal. Padahal dalam penggunaan sehari-hari, pengemudi biasanya menyalakan AC, lampu, sistem audio, dan berbagai perangkat elektronik lain yang turut memengaruhi konsumsi energi kendaraan. Selain itu, kecepatan rata-rata yang relatif rendah serta pola pengujian yang sudah diketahui luas membuat sejumlah produsen dapat mengoptimalkan kendaraan agar memperoleh hasil terbaik saat pengujian berlangsung. Akibatnya, angka konsumsi bahan bakar maupun jarak tempuh yang dihasilkan NEDC sering kali lebih optimistis dibandingkan kondisi nyata di jalan. Stasiun pengisian daya ultra-cepat DC 480 kW co-branding Xpeng x Voltron buat mobil listrik hadir di Tangerang. Meski demikian, WLTP juga belum sepenuhnya mampu menggambarkan kondisi berkendara sehari-hari. Pasalnya, pengujian masih dilakukan di laboratorium dan belum memperhitungkan seluruh variabel yang ditemui di jalan. Dalam praktiknya, konsumsi energi maupun jarak tempuh kendaraan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi lalu lintas, suhu lingkungan, penggunaan AC, kondisi jalan, gaya berkendara, hingga beban kendaraan. Bagi yang sedang mempertimbangkan membeli mobil listrik, angka WLTP umumnya referensi yang lebih realistis dibandingkan NEDC dalam menggambarkan kemampuan jarak tempuh kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang