Perjalanan darat jarak jauh selalu punya cerita. Dari lalu lintas yang tak terduga, perubahan cuaca, hingga tuntutan kenyamanan yang diuji berjam-jam di balik kemudi. Untuk melihat sejauh mana sebuah SUV keluarga mampu menjawab tantangan tersebut, Mitsubishi Destinator kami ajak menempuh perjalanan panjang dari Bogor menuju Yogyakarta pada saat musim libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Rute ini bukan sekadar soal jarak. Dari kepadatan khas Bogor, ruas tol Trans Jawa yang panjang dan monoton, hingga jalur antarkota dengan kontur naik turun, semuanya menjadi panggung uji yang ideal, bukan hanya untuk kenyamanan, tetapi juga efisiensi konsumsi bahan bakar. Dari Kota Hujan, Perjalanan Dimulai Test drive Mitsubishi Destinator Bogor menyambut pagi dengan lalu lintas yang padat. Dalam kondisi stop and go, Destinator terasa cukup bersahabat. Respons gasnya halus dan mudah dikontrol, membuat SUV ini tidak melelahkan saat harus merayap di tengah kemacetan. Posisi duduk ergonomis serta visibilitas ke depan yang luas turut membantu pengemudi tetap rileks. Keluar dari kota dan mulai melaju menuju tol, karakter Destinator perlahan berubah. Mesin terasa bekerja lebih tenang, dengan putaran rendah yang cukup untuk menjaga laju kendaraan secara konsisten. Di titik ini, kesan sebagai SUV untuk perjalanan jauh mulai terasa jelas. Tol Panjang, Kabin Tetap Tenang Begini posisinya saat duduk di bangku baris kedua Mitsubishi Destinator Memasuki tol Trans Jawa, perjalanan menjadi lebih ritmis. Kecepatan konstan di kisaran 90–120 km/jam dapat dipertahankan tanpa usaha berlebih. Kabin Destinator terasa cukup senyap, hanya menyisakan suara angin tipis yang masih dalam batas wajar. Suspensinya layak mendapat perhatian khusus. Sambungan jalan tol dan permukaan yang tidak selalu mulus mampu diredam dengan baik. Mobil tetap terasa stabil, sementara penumpang tidak mudah terayun. AC bekerja konsisten menjaga kabin tetap sejuk, bahkan saat matahari siang cukup terik. Kursi baris kedua menunjukkan bahwa Destinator memang dirancang sebagai SUV keluarga. Ruang kaki masih terasa memadai, dan posisi duduk tetap nyaman meski perjalanan berlangsung lama. 603,9 Kilometer dan Catatan Konsumsi BBM Jarak Tempuh dari Bogor ke Yogyakarta Road trip ini mencatatkan jarak tempuh total 603,9 kilometer, dari Bogor hingga Yogyakarta, dengan kombinasi lalu lintas perkotaan, jalan tol, serta jalur non-tol. Selama perjalanan, pengujian efisiensi bahan bakar dilakukan melalui tampilan Multi Information Display (MID). Hasilnya, Destinator mencatatkan konsumsi bahan bakar rata-rata 16 km per liter. Angka ini diraih dengan gaya berkendara normal, tanpa teknik eco driving ekstrem, serta kondisi kendaraan yang membawa penumpang dan barang bawaan. Pada beberapa ruas non-tol dengan kontur jalan menanjak dan berliku, konsumsi BBM memang sedikit terpengaruh. Namun secara keseluruhan, catatan di MID menunjukkan efisiensi yang cukup impresif untuk sebuah SUV yang digunakan menempuh perjalanan lintas provinsi. Konsumsi BBM Mitsubishi Destinator Setibanya di Yogyakarta, rasa lelah memang tak sepenuhnya hilang, tetapi jauh dari kata menguras tenaga. Ini menjadi indikator bahwa Destinator mampu menjaga kenyamanan pengemudi dan penumpang hingga akhir perjalanan. Road trip Bogor–Yogyakarta ini memperlihatkan bahwa Destinator bukan hanya cocok untuk penggunaan harian, tetapi juga dapat diandalkan sebagai kendaraan perjalanan jauh. Kenyamanan kabin, bantingan suspensi yang matang, serta konsumsi BBM yang efisien menjadi kombinasi yang membuat perjalanan panjang terasa lebih bersahabat. Mitsubishi Destinator Dalam perjalanan sejauh ratusan kilometer, kelelahan dan efisiensi sering kali menjadi pembeda. Dan lewat perjalanan 603,9 kilometer ini, Destinator berhasil menunjukkan karakternya sebagai SUV keluarga yang siap diajak melaju jauh tanpa banyak kompromi. Catatan Mitsubishi Destinator sukses meraih penghargaan bergengsi Car of the Year 2025 dari GridOto Awards dan bintang tertinggi ASEAN NCAP. Meski menawarkan kenyamanan dan efisiensi yang patut diapresiasi, Destinator tetap memiliki beberapa catatan yang perlu diperhatikan. Salah satunya, sistem pencahayaan yang terasa kurang maksimal saat berkendara di malam hari, terutama di ruas jalan minim penerangan, dan kondisi hujan. Sorotan lampu utama dinilai masih bisa ditingkatkan agar memberikan visibilitas yang lebih optimal, khususnya untuk perjalanan jarak jauh di malam hari di jalan tol. Catatan lain datang dari aspek ergonomi kabin. Posisi sunvisor terasa terlalu mepet bagi pengemudi dengan tinggi badan sekitar 178 cm. Dalam kondisi tertentu, sunvisor justru dapat mengganggu pandangan atau kurang fleksibel untuk menahan silau dari arah samping. Penyesuaian desain atau rentang gerak yang lebih luas akan membuat fitur ini lebih ramah bagi pengemudi bertubuh tinggi. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang