PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengungkap kesiapannya untuk memproduksi baterai kendaraan elektrifikasi di dalam negeri. Tak main-main, Toyota sudah menyiapkan satu jalur produksi khusus guna memenuhi kebutuhan pasar yang kian berkembang.Presiden Direktur TMMIN, Nandi Julianto, menegaskan bahwa langkah ini merupakan hasil kerja sama strategis dengan pabrikan baterai. Saat ini, fokus utama jalur tersebut adalah untuk memproduksi baterai mobil hybrid."Kita sudah punya satu line, nanti pada waktunya kita akan mengumumkan. Kita punya satu line khusus untuk baterai hybrid," kata Nandi Julianto di Jakarta. Nandi menjelaskan bahwa secara teknis, produksi baterai hybrid dan baterai mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) tidak memiliki perbedaan yang fundamental pada komponen intinya. Perbedaan mencolok hanya terletak pada kapasitas atau jumlah sel yang digunakan."Kalau kita bicara baterai hybrid sama baterai BEV itu cuma bicara jumlah sel saja kan. Jumlah selnya kalau baterai hybrid misalnya kan 1,7 kilowatt. Tapi kalau baterai BEV kan mungkin ada yang 50 sekian. Itu kan jumlah selnya saja. Tapi selnya sama, baterai manajemen sistemnya sama," jelasnya.Selain baterai, Toyota juga tengah mempersiapkan lokalisasi komponen penting lainnya seperti transaxle hingga motor listrik untuk memperkuat ekosistem elektrifikasi di Indonesia.Langkah lokalisasi ini bukan tanpa alasan. Toyota sedang berkejaran dengan waktu untuk memenuhi target pemerintah pada tahun 2027 mendatang. Jika komponen inti seperti baterai tidak diproduksi di dalam negeri, harga kendaraan Toyota terancam tidak kompetitif karena beban pajak yang tinggi."Kita sampaikan bahwa tahun 2027 itu ada target pemerintah seperti ini. Jadi kalau nggak bisa berarti ya itu kan nggak bisa (produksi). Nantinya tax-nya kita besar dan nggak akan kompetitif," tegas Nandi.Untuk memuluskan rencana ini, Toyota membutuhkan volume produksi yang besar agar rantai pasok (supply chain) mereka bisa bergerak secara ekonomis.Saat ini, mobil hybrid seperti Innova Zenix dan Yaris Cross menjadi tumpuan karena peminatnya yang sangat tinggi. Ditambah Toyota baru saja memperkenalkan mobil hybrid termurah, Veloz."Mereka (penyuplai) tentu perlu volume. Volume yang sekarang bisa memungkinkan adalah volume hybrid. Sehingga kita untuk hybrid kita sudah mulai start," pungkasnya.Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 79 Tahun 2023 (revisi dari Perpres 55/2019), target TKDN 60% untuk mobil elektrifikasi yang dipatok harus tercapai tahun 2027.Hingga 2026: Target minimal TKDN masih berada di angka 40%.Mulai 2027-2029: Target minimal TKDN naik menjadi 60%.2030 dan seterusnya: Target minimal mencapai 80%.