Indonesia tengah memasuki era transisi energi, bergerak dari ketergantungan bahan bakar fosil menuju sumber energi bersih dan terbarukan. Salah satu langkah strategis yang sedang dikembangkan adalah pemanfaatan bioetanol, bahan bakar nabati yang ramah lingkungan sekaligus mendukung kemandirian energi nasional. Chief Technology Officer Toyota Motor Corporation, Hiroki Nakajima, menegaskan komitmen Toyota untuk mendukung pengembangan bahan bakar berbasis bioetanol di Indonesia sebagai bagian dari strategi multi-pathway menuju carbon neutrality. Ilustrasi mobil dengan bahan bakar bioetanol “Di beberapa negara, penggunaan hybrid lebih masuk akal untuk menurunkan emisi karbon, sementara di negara berkembang yang mampu memproduksi energi bersih seperti bioetanol, kontribusinya bisa lebih signifikan,” ujar Nakajima belum lama ini. Menurutnya, fokus Toyota bukan hanya pada satu teknologi, melainkan menggabungkan berbagai alternatif seperti baterai, PHEV, mesin ICE, hingga kendaraan berbahan bakar hidrogen. Pendekatan ini memungkinkan pabrikan menyesuaikan solusi mobilitas dengan kebutuhan energi dan preferensi masyarakat di setiap negara. Kerja sama dan inisiatif internasional Toyota telah menjalin kolaborasi global untuk mempercepat pengembangan bioetanol. Salah satu contohnya adalah fasilitas riset raBit di Fukushima, Jepang, yang meneliti produksi bioetanol dari tanaman non-pangan, termasuk tanaman Soga. Tanaman tersebut bisa tumbuh efisien dengan sedikit air dan perawatan. “Jika kita bisa menggunakan tanaman seperti Soga, bioetanol bisa dimanfaatkan di banyak negara dan wilayah berbeda,” jelas Nakajima. Toyota pamerkan Avanza dengan bahan bakar bioetanol di GIIAS 2025 Selain itu, Toyota juga bekerja sama dengan negara-negara seperti India, Brasil, dan Thailand untuk transfer teknologi dan optimalisasi produksi, yang sejalan dengan upaya Indonesia mengembangkan industri bioenergi. Pelajaran dari Brasil CEO Toyota Motor Asia, Masahiko Maeda, menyoroti keberhasilan Brasil dalam membangun ekosistem energi terbarukan. “Sektor pertaniannya telah meningkatkan produktivitas selama lebih dari 50 tahun. Saya berharap Indonesia dapat mengembangkan hal serupa, baik untuk biodiesel maupun bioetanol, agar bisa bersaing secara global dan ekspor, misalnya ke Jepang,” ujar Maeda saat media briefing pra Japan Mobility Show (28/10/2025). Ia menekankan, keberhasilan kebijakan energi hijau bergantung pada harga yang kompetitif. “Jika energi ramah lingkungan dijual dengan harga tinggi, masyarakat luas tentu enggan menggunakannya. Oleh karena itu, komunikasi antar pemerintah menjadi kunci,” kata Maeda. Harga yang terjangkau akan mempermudah adopsi teknologi ramah lingkungan, khususnya di segmen kendaraan penumpang yang memiliki kontribusi besar terhadap emisi. Potensi bioetanol di Indonesia Indonesia sendiri memiliki potensi besar untuk pengembangan bioetanol dari tanaman tebu, jagung, dan singkong. Selain mendukung target Net Zero Emission 2060, bioetanol dipercaya dapat memberi dampak positif bagi perekonomian lokal, dari peningkatan kesejahteraan petani hingga pengurangan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Booth Toyota Motor Corporation di Japan Mobility Show 2025 Dalam presentasi Toyota, kendaraan hybrid fleksibel yang dapat menggunakan bioetanol menunjukkan pengurangan emisi CO2 “Well to Wheel” lebih dari 60 persen dibandingkan mesin konvensional dan lebih dari 50 persen dari HEV. Hal ini menegaskan peran bioetanol sebagai bagian dari strategi kendaraan multi-pathway Toyota di Indonesia. Menuju mobilitas berkelanjutan Toyota menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh, yakni data solution untuk optimasi logistik, mobility solution untuk kendaraan yang tepat guna, serta energy solution yang mencakup bioetanol dan energi baru lainnya seperti hidrogen. Di Thailand, Toyota telah memulai uji implementasi awal, dan langkah serupa diproyeksikan untuk Indonesia. “Solusi energi baru seperti bioetanol memungkinkan kita mengembalikan semuanya lebih cepat dan efektif, sekaligus mencapai target emisi CO2,” kata Nakajima. Strategi ini menunjukkan bahwa pengembangan kendaraan berbahan bakar alternatif tidak hanya soal teknologi, tetapi juga adaptasi terhadap kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi. langkah tersebut, Toyota berharap dapat mempercepat adopsi bioetanol di Indonesia sekaligus mendukung transisi energi bersih yang inklusif dan berkelanjutan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.