Pemilik motor Kawasaki, khususnya lini keluarga Ninja, kerap kali menghadapi tantangan saat mencari suku cadang (sparepart). Di bengkel umum, ketersediaan komponen motor asal pabrikan hijau ini terbilang minim. Bahkan, tak sedikit bengkel umum yang terpaksa menolak pengerjaan perbaikan motor Kawasaki karena keterbatasan pasokan komponen. Kawasaki Ninja R 150 di Jakarta Fair 2024 Meski begitu, para pemilik Ninja sebenarnya masih bisa bernapas lega. Komponen motor legendaris ini, mulai dari varian 2-tak hingga Ninja 250, masih relatif mudah ditemukan jika berburu langsung ke toko spesialis suku cadang Kawasaki, salah satunya toko Ramayana Kawasaki yang berlokasi di Jalan Kebon Jeruk VII, Jakarta Barat. Solusi Suku Cadang Di toko spesialis seperti Ramayana Kawasaki, ketersediaan sparepart untuk jajaran lini Ninja terbilang masih sangat aman dan lengkap, terutama untuk bagian dalaman mesin. "Kalau Ninja sih masih aman semua, sampai ke bagian dalam-dalam seperti baut juga masih aman tersedia. Namun kalau untuk bagian bodi (cover), memang sudah agak susah stoknya. Tapi kalau jeroan mesin masih lengkap," ujar Naufal, penjaga toko Ramayana Kawasaki saat ditemui Kompas.com. Kondisi ini menjadi angin segar bagi para pencinta Ninja yang rutin melakukan perawatan atau restorasi sektor performa mesin. Hanya saja, dari sisi harga, konsumen harus bersiap merogoh kocek lebih dalam. Harga Naik Tiga Kali Naufal menjelaskan bahwa harga suku cadang resmi Kawasaki mengalami kenaikan yang cukup intensif setiap tahunnya. Kenaikan harga tersebut bisa terjadi beberapa kali dalam periode satu tahun berjalan. "Kawasaki harganya naik terus. Dalam satu tahun itu bisa sampai tiga kali naik harga. Entah itu naik sekitar 2 persen sampai 5 persen per sekali naik," kata Naufal. Ia menambahkan, kenaikan harga paling terasa terjadi pada komponen-komponen yang masih didatangkan secara impor dari Jepang maupun Thailand. Komponen impor ini didominasi oleh partikel sektor mesin bagian dalam. "Apalagi kemarin baru ada kenaikan harga lagi di awal Juli. Rata-rata barang impor seperti dari Jepang dan Thailand itu naiknya berkisar antara 5 persen sampai 10 persen. Kalau komponen mesin memang rata-rata masih impor dari Jepang, meski sebagian ada juga yang dari Indonesia," tutur Naufal.