Jalan Raya Akses UI di Kelapa Dua, Depok, dikenal sebagai salah satu sentra showroom mobil bekas. Deretan showroom berdiri di sisi kanan dan kiri jalan. Kini suasananya berbeda, banyak showroom yang tutup. Penyebabnya ada tiga, pertama Covid-19, kemudian pemain besar mengambil alih, dan ketiga daya beli masyarakt menurun. Singgih, pemilik Willies Mobil, menjadi salah satu pelaku usaha yang masih bertahan di kawasan tersebut. Showroom miliknya sudah beroperasi sejak 2014. “Sebelumnya, di sepanjang Jalan Akses UI ini cukup banyak showroom mobil bekas. Kalau tidak salah, kurang lebih ada 20 showroom, sampai UI, jaraknya sekitar 1-2 kilometer,” kata Singgih kepada Kompas.com, Selasa (12/5/2026). Diler mobil bekas Willies Mobil di Kelapa Dua, Depok “Sekarang yang tersisa tinggal sekitar delapan showroom,” kata dia. Singgih mengatakan, titik balik penurunan usaha showroom mobil bekas mulai terasa saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020. “Mulai banyak yang berguguran sejak Covid-19, sekitar pertengahan 2020. Awalnya karena pandemi, yang dampaknya terasa sampai awal 2023. Kondisinya makin jeblok sejak saat itu,” ujar Singgih. Namun menurut dia, pandemi bukan satu-satunya penyebab. Kehadiran platform jual beli mobil bekas berskala besar juga ikut mengubah peta bisnis showroom konvensional. “Selain karena Covid-19, menurut saya juga karena muncul pemain-pemain besar seperti Carsome dan OLX Autos,” kata Singgih. Showroom mobil bekas Salman Auto Mobilindo, di Kelapa Dua, Depok. Ia menilai perusahaan besar dengan dukungan modal kuat mampu menguasai stok kendaraan hingga memengaruhi harga pasar mobil bekas. “Mereka ini pemain besar dengan investor besar juga. Jadi, seperti berusaha menguasai pasar pedagang mobil bekas, khususnya di penjualan otomotif,” ujarnya. Singgih bahkan membandingkan kondisi tersebut dengan perubahan pola perdagangan di sektor ritel saat marketplace mulai mendominasi pasar. “Kurang lebih sama seperti ketika Tokopedia dan Shopee mulai besar, banyak toko di Tanah Abang yang akhirnya tutup,” kata dia. Menurut Singgih, showroom kecil kini makin sulit mendapatkan stok mobil bekas berkualitas karena banyak unit langsung masuk ke platform besar. Diler mobil bekas Willies Mobil di Kelapa Dua, Depok “Sekarang ada platform besar di bidang otomotif, terutama penjualan mobil bekas. Kami jadi susah mencari barang karena stok banyak terserap ke mereka,” ujar Singgih. “Lama-lama harga juga terbentuk oleh mereka. Kalau melihat hukum pasar, pemain besar memang bisa memengaruhi harga,” lanjut dia. Selain persaingan bisnis, kondisi ekonomi juga dinilai menjadi faktor penting yang memengaruhi penjualan mobil bekas dalam beberapa tahun terakhir. “Jadi menurut saya, selain Covid-19, faktor lain adalah munculnya pemain besar dan kondisi ekonomi. Daya beli masyarakat juga memang sedang menurun,” kata Singgih. Showroom mobil bekas Hirzy Motor, di Kelapa Dua, Depok. Hal senada juga disampaikan Zidan dari Salman Auto Mobilindo. Ia mengatakan, kawasan tersebut dulunya jauh lebih ramai dibanding sekarang. “Ramai banget hampir depan, kanan, kiri, samping, showroom-showroom. Cuma pada tutup,” kata Zidan. Menurut dia, persaingan pasar dan lemahnya kondisi ekonomi membuat bisnis showroom mobil bekas semakin berat dijalankan. “Ya persaingan pasar sama kondisi ekonomi kita kan. Kondisi ekonomi global mungkin ya. Iya daya beli masyarakat pasti berpengaruh,” ujar dia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang