Ban radial saat ini menjadi standar utama dalam industri otomotif global, baik untuk mobil penumpang maupun kendaraan niaga. Teknologi ban radial dikenal lebih awet, stabil, dan efisien dibandingkan ban bias yang lebih dulu digunakan. Secara sederhana, ban radial adalah ban yang lapisan benangnya disusun tegak lurus (radial) terhadap arah putaran ban, lalu diperkuat sabuk baja di bagian tapak. Struktur ini membuat ban lebih kuat menahan beban, lebih stabil saat melaju, serta lebih tahan panas dan aus. Footprint ban radial dan bias Perjalanan teknologi ban radial tidak terjadi dalam waktu singkat. Ada beberapa tonggak penting dalam sejarah perkembangan ban hingga akhirnya teknologi radial lahir dan mendominasi pasar dunia. Vice President of Manufacturing Center Sailun Group, Gao Liting, menjelaskan bahwa pondasi awal teknologi ban dimulai dari penemuan di Amerika Serikat. “Jadi ada seorang peneliti bernama Goodyear di Amerika. Setelah mencampurkan sulfur ke dalam karet, keawetannya bisa meningkat sangat drastis,” kata Gao Liting di Semarang, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Penemuan tersebut dikenal sebagai proses vulkanisasi karet, yang membuat karet menjadi lebih kuat, elastis, dan tahan lama. Teknologi ini menjadi dasar bagi perkembangan ban modern. Ban Sailun untuk SUV Tahap penting berikutnya terjadi di Inggris melalui pengembangan ban berisi udara. “Kemudian di Inggris ada seorang bernama Dunlop. Ia membuat karet yang lebih praktis dengan menambahkan angin ke dalam ban, sehingga karet tersebut bisa menahan beban jauh lebih besar,” ujar Gao Liting. "Pada 1895, Dunlop menciptakan ban yang diisi angin. Itu merupakan ban bias pertama yang diciptakan pada tahun tersebut,” ujarnya. Sebelum ada ban radial, ban bias menjadi standar industri selama puluhan tahun. Ban bias menggunakan lapisan benang yang disusun menyilang, strukturnya cukup kuat tetapi berat dan cepat panas saat kecepatan tinggi. Perubahan besar baru terjadi pada pertengahan abad ke-20, saat teknologi ban radial diperkenalkan. Pabrik ban Sailun di Demak, Jawa Tengah. “Pada 1946, perusahaan Michelin menciptakan ban radial pertama di dunia. Michelin mengganti bahan baku pada struktur bagian dalam ban. Ban radial menjadi lebih ringan dibandingkan ban berbahan nilon,” ujarnya. Dengan penggunaan sabuk baja dan susunan radial, ban jenis ini menawarkan daya angkut lebih baik, efisiensi bahan bakar lebih tinggi, serta daya cengkeram yang lebih stabil. Menurut Gao Liting, adopsi teknologi radial berlangsung sangat cepat, terutama di negara-negara maju. “Teknologi ban radial pertama kali dikembangkan di Eropa dan kemudian diadopsi dengan sangat cepat di Amerika. Akibatnya, saat ini di Eropa dan Amerika penggunaan teknologi radial sudah mencapai 100 persen,” kata Gao Liting. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang