Toyota Fortuner diesel masih menjadi salah satu SUV ladder frame yang cukup diminati di Indonesia. Selain punya tampilan gagah, mobil ini juga dikenal tangguh untuk penggunaan harian maupun perjalanan jarak jauh. Namun di balik karakter SUV diesel yang kuat tersebut, biaya kepemilikannya juga menjadi perhatian para pengguna, terutama setelah harga bahan bakar solar non subsidi mengalami kenaikan. Andre, pemilik Toyota Fortuner VRZ tahun 2021, turut membagikan pengalamannya soal biaya operasional SUV diesel tersebut. “Mobil ini saya gunakan sebagai kendaraan harian sekaligus kendaraan untuk perjalanan jarak jauh, karena secara karakter memang cukup fleksibel untuk kebutuhan dalam kota maupun luar kota. Terutama overland,” kata Andre kepada Kompas.com, Senin (11/5/2026). Menurut Andre, salah satu alasan dirinya memilih Fortuner karena mobil ini dikenal cukup andal untuk penggunaan jangka panjang. “Fortuner dikenal sebagai mobil yang cukup reliable untuk pemakaian jangka panjang,” ujar Andre. Selain itu, ground clearance tinggi dan posisi duduk khas SUV membuat dirinya merasa lebih percaya diri saat melewati berbagai kondisi jalan. Toyota Fortuner diesel Namun, di balik keunggulan tersebut, Andre mengakui biaya operasional Fortuner diesel memang tidak bisa dibilang murah. Untuk kebutuhan bahan bakar, dirinya mengaku menghabiskan biaya sekitar Rp 2 juta sampai Rp 4 juta per bulan dengan menggunakan Dexlite seharga Rp 26.000 per liter. Andre juga mengatakan, sejak harga solar non subsidi mengalami kenaikan, penggunaan Fortuner untuk mobilitas harian mulai dikurangi. Saat ini mobil tersebut lebih sering dipakai untuk perjalanan luar kota dibanding penggunaan dalam kota setiap hari. Jika dihitung dalam setahun, biaya bahan bakar yang dikeluarkan Andre berada di kisaran Rp 24 juta hingga Rp 48 juta. Rata-rata pengeluaran BBM tahunannya sekitar Rp 36,5 juta. Selain bahan bakar, biaya pajak tahunan Fortuner diesel miliknya juga tergolong cukup besar, yakni sekitar Rp 8,5 juta sampai Rp 9 juta per tahun. Sementara untuk perawatan berkala, Andre mengaku biaya servis rutin masih relatif wajar untuk ukuran SUV diesel. “Untuk servis biasanya sekitar Rp 1 juta sampai Rp 3 juta per 10.000 kilometer,” ujar Andre. Jika ditotal secara kasar, maka setidaknya Andre harus mengeluarkan dana paling sedikit Rp 33,5 juta per tahun, hingga Rp 60 juta untuk biaya kepemilikan Toyota Fortuner diesel. Angka tersebut mencakup kebutuhan bahan bakar, pajak tahunan, dan servis berkala. Meski biaya operasionalnya terbilang tidak sedikit, Andre menilai Toyota Fortuner diesel tetap menawarkan nilai lebih dari sisi durabilitas, kenyamanan perjalanan jauh, hingga kemampuan melibas berbagai kondisi jalan. Karena itu, SUV diesel seperti Fortuner masih cocok untuk pengguna yang memang membutuhkan kendaraan tangguh dengan karakter kuat untuk pemakaian jangka panjang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang