Kecelakaan beruntun yang melibatkan 14 kendaraan terjadi di KM 91+900 B Ruas Tol Cipularang arah Jakarta, Rabu (7/10/2026) sekitar pukul 12.30 WIB. Kecelakaan tersebut diduga bermula dari sebuah truk yang mengalami masalah pengereman saat melaju dari arah Bandung menuju Jakarta. Setibanya di KM 91+900 B, truk tersebut diduga tidak terkendali hingga menabrak kendaraan yang berada di depannya. Kejadian ini membuat lajur arah Jakarta sempat tertutup dan berdampak pada kelancaran arus lalu lintas di sekitar lokasi. Senior Manajer Representative Office 3 Jasamarga Metropolitan Tollroad Agus Susilo mengatakan, petugas langsung dikerahkan untuk melakukan pengamanan dan evakuasi setelah menerima laporan kecelakaan. "Untuk penanganan, kami fokus pada evakuasi korban luka dan upaya mencairkan kepadatan lalu lintas. Untuk itu kami segera mengerahkan armada rescue, ambulance dan derek menuju lokasi kejadian melalui jalur lawan arah untuk mempercepat proses evakuasi," kata Agus, dalam keterangan resmi, Rabu (7/10/2026). Dalam kecelakaan tersebut, satu orang mengalami luka berat dan dievakuasi ke Rumah Sakit Abdul Radjak Purwakarta untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Sementara korban luka ringan mendapatkan perawatan langsung di lokasi. Kendaraan yang terlibat kemudian dievakuasi menuju pool Jatiluhur untuk mempercepat proses penanganan dan pemulihan lalu lintas. Kecelakaan tersebut kembali mengingatkan pentingnya memahami langkah yang harus dilakukan ketika kendaraan mengalami rem blong, terutama saat melaju di ruas jalan dengan kontur menurun seperti Tol Cipularang. Salah satu fasilitas keselamatan yang dapat dimanfaatkan dalam kondisi darurat adalah jalur penyelamat. Ilustrasi jalur penyelamat darurat di jalan tol. Manfaatkan Jalur Penyelamat Saat Rem Blong Jasa Marga menyediakan sejumlah jalur penyelamat darurat di Ruas Tol Cipularang arah Jakarta, yakni di KM 116+800, KM 92+600 dan KM 91+400. Jalur tersebut disiapkan untuk membantu menghentikan kendaraan yang mengalami masalah dan tidak mampu mengendalikan lajunya. Dikutip dari laman resmi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), jalur penyelamat memiliki kontur kasar dan bergelombang. Kondisi tersebut membuat laju kendaraan mendapatkan hambatan sehingga kecepatannya dapat diredam. Jalur penyelamat umumnya ditempatkan setelah ruas jalan dengan karakter menurun panjang. Kondisi ini menjadi salah satu lokasi yang berisiko terhadap kejadian rem blong karena sistem pengereman bekerja keras menahan laju kendaraan dan dapat mengalami panas berlebih. Untuk spesifikasinya, jalur penyelamat memiliki ketinggian sekitar 6 meter, panjang 20 meter dan lebar 3 meter. Lokasinya berada di sisi kiri jalan. Dengan demikian, ketika kendaraan sudah kehilangan kemampuan pengereman dan masih meluncur, jalur penyelamat dapat menjadi pilihan terakhir untuk menghentikan kendaraan sekaligus mengurangi risiko kecelakaan yang lebih fatal. Ilustrasi rambu menjelang jalur penyelamat darurat di jalan tol. Jangan Panik Saat Rem Blong Training Director The Real Driving Centre Marcell Kurniawan mengatakan, pengemudi harus tetap berusaha mengendalikan kendaraan ketika mengalami rem blong. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mencoba mengocok pedal rem untuk menghilangkan vapor lock atau kondisi rem masuk angin. "Kalau masih blong, manfaatkan engine brake dengan menurunkan gigi secara bertahap. Jika masih blong, coba tarik rem tangan, diangkat sedikit-sedikit," ucap Marcell kepada Kompas.com. Pengemudi juga tidak disarankan langsung menarik rem tangan secara mendadak karena berpotensi membuat kendaraan kehilangan keseimbangan. Jika kendaraan masih meluncur dan pengemudi melihat jalur penyelamat, segera arahkan kendaraan menuju fasilitas tersebut. "Jalur penyelamat hanya meminimalisir risiko, bukan menghilangkan. Bisa saja bumper rusak saat masuk jalur penyelamat, tapi masih lebih baik daripada nyawa melayang," kata Marcell. Artinya, ketika kendaraan sudah tidak dapat dihentikan dengan sistem pengereman normal, kerusakan kendaraan menjadi risiko yang lebih kecil dibandingkan membiarkan kendaraan terus melaju tanpa kendali. Parkir motor di jalur penyelamat Setelah Berhenti di Jalur Penyelamat Setelah kendaraan berhasil dihentikan di jalur penyelamat, pengemudi dan penumpang dapat segera mengamankan diri dari kendaraan. Selanjutnya, pengemudi bisa menghubungi layanan derek untuk mengevakuasi kendaraan dari jalur penyelamat dan membawanya ke bengkel untuk diperiksa. Jalur penyelamat memang menjadi fasilitas darurat, bukan pengganti perawatan sistem pengereman kendaraan. Karena itu, sebelum melintasi turunan panjang, pengemudi perlu memastikan kondisi sistem pengereman dalam keadaan baik. Penggunaan gigi rendah atau engine brake juga penting untuk membantu menjaga kecepatan kendaraan tanpa terus-menerus mengandalkan pedal rem.