Sistem keamanan mobil terus berkembang mengikuti semakin canggihnya modus pencurian kendaraan. Jika dulu mobil hanya mengandalkan kunci mekanis, maka kini sebagian besar mobil modern sudah menggunakan chip atau transponder yang terintegrasi dengan sistem immobilizer. Pemilik Komandan Key, Raymond Lie, mengatakan, penggunaan chip pada kunci mobil membuat kendaraan jauh lebih aman karena mesin tidak bisa dinyalakan hanya dengan menduplikasi bentuk anak kunci. "Kalau sudah pakai chip, tentunya tidak bisa ditembus dengan gampang," ujar Raymond saat ditemui Kompas.com, di Jakarta Utara, Selasa (14/7/2026). Evolusi Sistem Keamanan Mobil Raymond menjelaskan, perkembangan sistem keamanan mobil terjadi secara bertahap. Pada awalnya, kendaraan hanya mengandalkan kunci manual dengan bentuk anak kunci yang dibuat semakin rumit agar sulit dibobol. Kemudian hadir alarm sebagai lapisan keamanan tambahan. Namun, sistem ini masih mengandalkan rangkaian kabel sehingga seiring waktu bisa dipelajari oleh pelaku pencurian. "Zaman dulu mobil belum ada alarm. Mobil hanya pakai kunci manual, mereka (maling) cuma dipersulit dari bentuk kuncinya saja. Setelah itu muncul alarm. Tapi sekarang maling juga sudah tahu kabel mana yang harus dipotong atau diputus," kata Raymond. Menurut dia, kondisi tersebut membuat pabrikan beralih ke sistem keamanan berbasis digital melalui teknologi immobilizer. Berawal dari Permintaan Perusahaan Asuransi Raymond mengatakan, teknologi immobilizer pertama kali diperkenalkan BMW atas dorongan asosiasi perusahaan asuransi di Jerman. Saat itu, perusahaan asuransi meminta produsen mobil meningkatkan sistem keamanan agar risiko pencurian kendaraan dapat ditekan. "Semua mobil di sana rata-rata sudah ter-cover asuransi. Jadi pihak asuransi meminta pabrikan supaya mobil jangan terlalu gampang hilang," ujarnya. Cara Kerja Chip Immobilizer Berbeda dengan alarm yang hanya berupa modul tambahan, immobilizer bekerja langsung dengan sistem elektronik kendaraan. Raymond Lie komandan key Dalam kepala kunci terdapat chip transponder yang menyimpan data terenkripsi (encrypted). Saat kunci dimasukkan atau didekatkan ke mobil, sistem akan mencocokkan kode tersebut dengan data yang tersimpan pada ECU kendaraan. Mesin Hanya Menyala Bila Kode Cocok Apabila kode pada chip sesuai dengan data di mobil, mesin dapat dihidupkan. Sebaliknya, jika kode tidak dikenali, maka mesin akan tetap terkunci meski anak kunci berhasil diputar. "Kalau immobilizer sendiri, dia ada data encrypted. Jadi dia mesti saling kenal. Sama seperti kartu RFID, karena transponder ini sebenarnya juga RFID, hanya bekerja di frekuensi rendah," kata Raymond. Dengan sistem tersebut, pencuri tidak cukup hanya menduplikasi bentuk anak kunci. Mereka juga harus memiliki chip transponder yang sesuai dengan sistem immobilizer kendaraan, sehingga tingkat keamanan mobil menjadi jauh lebih tinggi dibanding kunci konvensional.