Di tengah persaingan industri otomotif, efisiensi lini produksi menjadi salah satu kunci utama. Hal itu terlihat jelas di fasilitas manufaktur Suzuki Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, yang kini sanggup melahirkan satu unit mobil hanya dalam waktu 2,1 menit berkat alur produksi yang sepenuhnya terintegrasi. Meski begitu, waktu penyelesaian satu kendaraan dari lembaran pelat baja hingga menjadi mobil utuh tetap berada di kisaran 8 jam, termasuk proses pressing, welding, painting, assembling, hingga final inspection. Pabrik Suzuki Indonesia Demikian disampaikan salah satu operator Suzuki di Suzuki Indomobil Motor (SIM) Plant Cikarang, Jawa Barat, Selasa (18/11/2025). "Jadi pembuatan proses pembuatan mobil secara utuh itu memakan waktu sekitar 8 jam. Tapi take time-nya sekitar 2,1 menit," katanya sembar menceritakan proses pembuatan mobil di pabrik terkait. Lebih jauh, dijelaskan khusus untuk tahap pengelasan saja, waktu pengerjaan mencapai dua jam. Seluruh rangkaian, mulai dari pressing, welding, painting, assembling sampai final inspection berjalan secara berurutan dan diawasi ketat untuk memastikan kualitas akhir setiap unit. Plant Cikarang sendiri difokuskan sebagai pusat produksi mobil penumpang Suzuki sejak 2015, meliputi Ertiga, XL7, dan Fronx. Pabrik Suzuki Indonesia Dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 107.000 unit, pabrik ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga menopang pasar ekspor. Untuk Fronx saja, Suzuki menargetkan pengapalan sekitar 30.000 unit ke negara-negara Asia Tenggara hingga 2027. "Dalam satu hari, kemampuan produksi Fronx berada di kisaran 130 hingga 150 unit tergantung kebutuhan," kata dia lagi. Sejak awal pembangunan pabrik, Suzuki telah menanamkan investasi lebih dari Rp 22 triliun. Investasi besar ini membuat proses manufaktur dapat dikerjakan secara lengkap di satu kawasan, termasuk pembuatan mesin, transmisi, dan kursi melalui fasilitas powertrain dan seat. Selain itu, Suzuki menggandeng sekitar 800 pemasok komponen, dengan 55 persen di antaranya berasal dari perusahaan lokal. Dari jumlah tersebut, 32 persen masuk kategori UMKM. Untuk model Fronx yang relatif baru, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN)-nya pun sudah cukup tinggi, mencapai 63 persen. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.