Transisi menuju kendaraan listrik di Indonesia dinilai belum menyentuh seluruh sektor transportasi. Di tengah gencarnya insentif pemerintah untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), kendaraan niaga berat, khususnya truk, masih belum menjadi perhatian utama. Padahal, berdasarkan kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), populasi truk yang hanya sekitar 4 persen dari total kendaraan di Indonesia atau lebih dari 6 juta unit, menyumbang hingga 30 persen emisi sektor transportasi. Menjajal truk listrik Mitsubishi Fusoo eCanter Kondisi ini mendorong lahirnya kampanye "Janji Jangan Ngebul" yang diperkenalkan dalam Indonesia Net Zero Summit 2026. Kampanye tersebut bertujuan mengajak produsen otomotif mengambil peran lebih besar dalam mempercepat elektrifikasi armada truk nasional, sehingga dekarbonisasi sektor transportasi tidak hanya berfokus pada kendaraan penumpang. Farizon SV di Giicomvec 2026 Produsen Punya Kapabilitas Campaign Lead "Janji Jangan Ngebul", Rafaela Xaviera, mengatakan komitmen dekarbonisasi produsen otomotif seharusnya tidak berhenti pada kendaraan penumpang. "Walau produsen otomotif telah menunjukkan komitmen dukungan kepada ekosistem kendaraan listrik yang semakin baik, namun fokusnya masih sangat dominan di kendaraan penumpang," ujar Rafaela, dalam keterangan tertulis (4/8/2026). Truk listrik di IWIP, Kamis (15/1/2026). "Kami ingin memastikan segmen truk, yang juga memberikan dampak lingkungan nyata berdasarkan kajian yang sudah ada, juga mendapatkan perhatian yang setara. Kami ingin mendorong kesadaran bahwa produsen memiliki kapabilitas teknis dan kapital untuk mempercepat transisi ini," kata dia. Menurut dia, teknologi truk listrik telah terbukti layak digunakan di berbagai negara, seperti China dan sejumlah negara Eropa. Tantangan di Indonesia kini lebih banyak berasal dari sisi pasokan, pembangunan infrastruktur pengisian daya, hingga penguatan rantai pasok komponen lokal. Truk Listrik yang digunakan DLH DKI Jakarta Truk Listrik Dinilai Jadi Peluang Bisnis Masa Depan Project Lead Just EV Enter Nusantara, Balqist Aroma Bunga, menilai elektrifikasi armada logistik bukan hanya berkaitan dengan pengurangan emisi, tetapi juga menjadi strategi memperkuat ketahanan energi nasional. "Ketergantungan pada BBM impor membuat perekonomian dan rantai pasok kita sangat rentan, padahal truk adalah tulang punggung logistik nasional," kata Balqist. Ia menambahkan, transformasi menuju truk listrik semestinya dipandang sebagai peluang bisnis jangka panjang oleh produsen otomotif. PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) menyerahkan unit truk listrik Mitsubishi Fuso eCanter kepada mitra strategisnya, PT Takari Kokoh Sejahtera. "Transformasi ke truk listrik bukan sekadar isu lingkungan, melainkan strategi ketahanan energi. Produsen otomotif yang jeli melihat dinamika pasar seharusnya menangkap ini sebagai peluang bisnis masa depan, bukan sekadar hambatan regulasi," ujarnya. Senada, Climate Program Manager Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Kiara Putri Mulia, menilai elektrifikasi armada logistik harus menjadi bagian penting dalam agenda transisi kendaraan listrik nasional agar target dekarbonisasi sektor transportasi dapat tercapai secara menyeluruh.