Toyota Motor Corporation (TMC) melaporkan kinerja yang belum sepenuhnya pulih pada awal 2026, di mana produksi global Februari 2026 turun 3,9 persen secara tahunan menjadi 749.673 unit. Koreksi ini memperpanjang tren penurunan selama empat bulan berturut-turut, yang dipicu perlambatan di China dan Jepang. Mengutip Kyodo, penjualan global Toyota juga menyusut 3,3 persen menjadi 737.134 unit. Angka tersebut menjadi penurunan pertama dalam tiga bulan terakhir. Konferensi pers langkah elektrifikasi dari Toyota Motor Corporation, Selasa (14/12/2021) Secara rinci, produksi di luar negeri turun 4,6 persen menjadi 470.757 unit. Pelemahan terdalam terjadi di China yang anjlok 11,5 persen menjadi 78.457 unit, seiring ketatnya persaingan dan berkurangnya hari kerja akibat libur Tahun Baru Imlek. Sementara itu, produksi domestik di Jepang turun 2,6 persen menjadi 278.916 unit, dipengaruhi jumlah hari operasional yang lebih sedikit dibandingkan periode sama tahun lalu. Di kawasan Amerika Utara, produksi menyusut 9,1 persen menjadi 159.237 unit. Penurunan signifikan terjadi di Kanada, merosot 46,2 persen menjadi 23.173 unit, terkait penyesuaian menjelang pembaruan model sport utility vehicle (SUV) RAV4. Namun, kinerja di Amerika Serikat masih menunjukkan tren positif. Produksi naik 3,4 persen menjadi 110.978 unit, didorong tingginya permintaan kendaraan elektrifikasi, khususnya hybrid. Dari sisi penjualan, pasar global di luar Jepang turun 2,2 persen menjadi 614.870 unit. Meski demikian, penjualan di Amerika Serikat justru tumbuh 3,2 persen menjadi 180.950 unit. Sebaliknya, pasar domestik Jepang melemah 8,3 persen menjadi 122.264 unit, tertekan faktor administrasi menjelang berakhirnya insentif pajak berbasis kinerja lingkungan pada akhir Maret. Penjualan di China juga turun 13,9 persen menjadi 82.471 unit. Pabrik Toyota di Karawang Secara keseluruhan, delapan produsen otomotif utama Jepang, termasuk Toyota, membukukan produksi global 1.943.619 unit pada Februari 2026, turun 1,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sinyal perlambatan ini sejalan dengan peringatan yang sebelumnya disampaikan Mantan CEO Toyota, Koji Sato. Ia menilai industri otomotif saat ini berada dalam tekanan besar dan mengarah pada fase krisis. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan ratusan pemasok dalam sebuah forum. Ia menegaskan, perubahan lanskap industri berlangsung sangat cepat, mulai dari agresivitas produsen China hingga meningkatnya peran software dalam kendaraan. Di saat bersamaan, faktor eksternal seperti geopolitik dan tarif juga terus membayangi. Kondisi tersebut membuat industri otomotif memasuki fase bertahan hidup, bahkan bagi Toyota yang selama ini dikenal kuat lewat efisiensi manufaktur dan filosofi produksinya. Ke depan, peningkatan produktivitas dan efisiensi menjadi kunci. Toyota mulai melakukan penyesuaian, termasuk melonggarkan standar kualitas tertentu melalui program 'Smart Standard Activity' untuk menekan pemborosan. Langkah ini menunjukkan bahwa pemain besar seperti Toyota pun perlu beradaptasi lebih cepat guna menjaga daya saing di tengah perubahan industri yang semakin kompleks. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang