Konsep mobil listrik kecil dua pintu yang mampu mengangkut empat penumpang sebenarnya sudah hadir sejak beberapa tahun lalu. Segmen ini cukup menarik, terutama untuk penggunaan di kota besar yang padat, karena menawarkan dimensi ringkas dan kemudahan bermanuver. Salah satu pendatang baru di kelas tersebut ialah Changan Lumin. Test drive Changan Lumin keliling Jakarta Micro EV yang hadir sebagai pemain baru di segmen yang sebelumnya telah diisi oleh Wuling Air EV, Seres E1, dan beberapa model sejenis. Saya bersama sejumlah media mendapat kesempatan untuk menjajal langsung Changan Lumin mengitari Jakarta, Rabu (21/1/2026). Pengujian ini dilakukan untuk merasakan lebih dalam karakter berkendara mobil listrik yang dibanderol di bawah Rp 200 juta tersebut. Kabin serta pengaturan posisi duduk dan ergonomi sudah dibahas pada . Pada artikel kali ini, fokus pembahasan diarahkan pada rasa berkendara, yang menjadi inti dari pengalaman mengemudikan sebuah mobil, terlepas dari tampilan eksterior maupun kelengkapan fitur. Changan Lumin Karakter Kesan pertama saat mengendarai Changan Lumin adalah karakter setirnya yang terasa nyaman. Putaran setir tidak terasa kopong, cukup responsif, namun juga tidak terlalu berat. Karakter ini memberikan rasa seperti mengemudikan “mobil sungguhan”, bukan sekadar city car mungil atau micro EV. Respons pedal gas tergolong baik. Changan Lumin Meski jelas bukan mobil untuk kebut-kebutan, akselerasi awal terasa sigap untuk kebutuhan harian. Lumin dibekali dua mode berkendara, yakni Eco dan Sport, yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Mode Sport memberikan respons akselerasi yang sedikit lebih agresif dibandingkan Eco. Pengereman Saat melakukan pengereman, sistem rem bekerja dengan baik. Test drive Changan Lumin keliling Jakarta Ada kesan rem terasa cukup pakem ketika diinjak, namun karakter seperti ini umum dijumpai pada mobil listrik. Selama perjalanan sejauh sekitar 60 kilometer, termasuk melewati kondisi macet di jam sibuk jalan arteri Jakarta, Lumin terasa mudah diajak bermanuver. Dimensinya yang mungil membuat mobil ini lincah untuk selap-selip dan memudahkan pengemudi saat mencari celah di kepadatan lalu lintas perkotaan. Sebagai gambaran, Changan Lumin memiliki panjang 3.270 mm, lebar 1.700 mm, tinggi 1.545 mm, serta jarak sumbu roda 1.980 mm. Test drive Changan Lumin keliling Jakarta Dibandingkan Wuling Air EV, Lumin tercatat lebih panjang dan lebih lebar, meski memiliki wheelbase yang sedikit lebih pendek. Performa Saya juga sempat membawa Lumin masuk ke ruas tol menuju Jakarta Barat. Akselerasi awal masih terasa cukup responsif. Namun saat kecepatan lebih tinggi dorongan tenaga mulai terasa menurun. Meski pedal gas diinjak lebih dalam, kecepatan mobil tidak bertambah signifikan. Menegaskan mobil ini memang dirancang untuk penggunaan perkotaan. Meski demikian, sensasi berkendaranya positif. Lumin terasa seperti mobil “sungguhan” dan juga diperlakukan setara oleh pengguna jalan lain, baik saat melaju di jalan arteri maupun di ruas tol. Kesimpulan Secara keseluruhan, rasa berkendara Lumin terbilang nyaman dan menyenangkan. Setir terasa enak, respons mobil sesuai kebutuhan harian, serta dimensinya mendukung mobilitas di kota besar. Catatannya terletak pada absennya hill start assist dan auto hold, sehingga pengemudi perlu sedikit lebih waspada dan sigap tarik rem tangan saat menghadapi tanjakan dan kemacetan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang