Octane booster sering digunakan oleh pemilik kendaraan yang ingin meningkatkan angka oktan pada bahan bakar mereka. Ada anggapan umum bahwa semakin tinggi angka oktan, maka mesin akan menghasilkan tenaga yang lebih besar. Namun, hubungan antara angka oktan dan performa mesin sebenarnya tidak sesederhana itu. Penjelasan lebih lanjut diperlukan untuk memahami dinamika ini secara menyeluruh. Bagaimana angka oktan memengaruhi performa mesin? Dosen Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto, menjelaskan bahwa manfaat bahan bakar dengan oktan yang lebih tinggi sangat berkaitan dengan waktu pengapian atau ignition timing yang digunakan oleh mesin. Ilustrasi octane booster Ia menekankan bahwa penyesuaian waktu pengapian adalah kunci untuk mendapatkan manfaat tersebut. "Lalu apakah ada manfaatnya? Ada kalau timing ignition atau waktu pengapian businya disesuaikan," kata Tri kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2026). Tri memberikan contoh dengan kendaraan lama. "Misalnya saya punya Toyota Kijang tahun lama, tahun 1980-an. Sekarang kan sudah tidak ada Premium, padahal pakai Pertalite. Setting-an dari pabriknya dulu kan Premium RON 88," jelasnya. "Kalau saya tidak sesuaikan timing ignition-nya lalu saya isi Pertalite, maka performanya turun. Tenaganya jadi turun, mesinnya tidak kuat, akselerasinya boyot. Tapi kalau misalnya disesuaikan, kita akan mendapat performa yang optimal," ujarnya. Apa itu angka oktan dan mengapa penting untuk disesuaikan? Angka oktan atau RON pada dasarnya adalah indikator kemampuan bahan bakar untuk menahan knocking atau detonasi. Semakin tinggi angka oktan, semakin besar pula ketahanan bahan bakar terhadap fenomena knocking. Knocking sendiri terjadi ketika proses pembakaran di dalam mesin bensin berlangsung secara tidak terkendali, menciptakan gelombang tekanan yang tidak seharusnya. Ilustrasi octane booster Kondisi ini dapat mengganggu kinerja mesin dan, jika terjadi terus-menerus dalam kondisi berat, berpotensi menyebabkan kerusakan serius. Oleh karena itu, setiap mesin dirancang dengan kebutuhan oktan tertentu. Menggunakan bahan bakar dengan RON yang lebih tinggi dari kebutuhan mesin tidak secara otomatis meningkatkan tenaga. Sebaliknya, jika oktan terlalu rendah untuk kebutuhan mesin, sistem mesin modern dapat mengoreksi pengapian atau menurunkan tenaga yang dihasilkan untuk mencegah knocking. Hal inilah yang mendasari pentingnya melihat kebutuhan kendaraan sebelum menggunakan octane booster. Manfaat dari penambahan oktan baru akan terasa jika mesin memang membutuhkan peningkatan oktan tersebut. Bagaimana mobil modern menyesuaikan kebutuhan oktan? Berbeda dengan kendaraan lawas yang memiliki pengaturan pengapian yang lebih terbatas, mobil modern telah dilengkapi dengan sistem pengendalian mesin elektronik. Zat aditif atau octane booster keluaran Bardahl Tri menjelaskan bahwa kemampuan ini sudah ada pada mobil yang lebih baru, meskipun rentang penyesuaiannya tetap memiliki batasan. "Kalau mobil yang sekarang, sejak tahun 2003 itu kan punya kemampuan untuk menyesuaikan timing ignition-nya dengan RON bahan bakar," kata Tri. Sistem ini bekerja dengan menggunakan sensor dan komputer mesin untuk mendeteksi kondisi pembakaran. Salah satu komponen penting adalah sensor knock yang membantu ECU (Engine Control Unit) menentukan apakah waktu pengapian perlu dikoreksi. Namun, kemampuan koreksi ini bukan berarti semua jenis bahan bakar dapat digunakan tanpa batas. Mesin tetap dirancang dengan rentang kebutuhan oktan tertentu. "Tapi tentu tidak luas. Tidak dari 90 sampai 98, tidak begitu. Paling dari 90 sampai 94. Kalau diisi 95, paling timing ignition-nya settingannya menjadi yang cocok untuk 94," ujarnya. Apa dampak jika oktan bahan bakar tidak sesuai dengan kebutuhan mesin? Jika bahan bakar yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan mesin, salah satu konsekuensi utamanya adalah performa yang tidak optimal. Tri menjelaskan bahwa kondisi ini dapat memengaruhi berbagai aspek, mulai dari tenaga, akselerasi, hingga emisi. "Kalau tidak cocok, apa dampaknya? Tenaga berkurang, akselerasi berkurang, emisi meningkat. Sehingga akhirnya berdampak buruk juga untuk kondisi udara," katanya. Pada mesin modern, ECU dapat melakukan koreksi waktu pengapian ketika mendeteksi kecenderungan knocking. Salah satu tujuan utama dari koreksi ini adalah untuk melindungi mesin dari kerusakan. Namun, koreksi pengapian tersebut juga dapat menyebabkan pembakaran tidak bekerja pada kondisi yang paling optimal. Akibatnya, pengemudi mungkin akan merasakan respons mesin yang berbeda, terutama saat kendaraan membutuhkan tenaga yang lebih besar.