Motor listrik memiliki keunggulan arsitektural saat menghadapi abu vulkanik. Alasannya motor listrik tidak butuh pasokan udara dari luar untuk menghasilkan tenaga. Hendro Sutono, pegiat kendaraan listrik sekaligus Admin KOSMIK Indonesia, mengatakan motor listrik memiliki karakter yang berbeda ketika digunakan di tengah paparan abu vulkanik. Hal ini berbeda dengan mesin pembakaran internal yang membutuhkan pasokan udara untuk proses pembakaran bahan bakar. "Perbandingan kondisi ini menjadi sangat kontras ketika melihat bagaimana sepeda motor listrik merespons ancaman lingkungan yang sama," kata Hendro kepada Kompas.com, Rabu (9/9/2026). "Kendaraan berbasis baterai membawa perubahan mendasar pada arsitektur penggerak yang membuatnya memiliki daya tahan alami terhadap material vulkanik," ujarnya. Abu vulkanik Gunung Semeru menempel di kendaraan warga, Selasa (14/5/2024) Tidak Butuh Udara Abu vulkanik terdiri dari partikel sangat halus yang berasal dari pecahan kaca vulkanik dan kristal mineral, termasuk silika. Pada motor bensin, udara dari lingkungan dibutuhkan untuk proses pembakaran. Udara tersebut masuk melalui saluran dan melewati saringan sebelum menuju mesin. Motor listrik tidak memiliki kebutuhan tersebut karena tenaga berasal dari energi listrik yang disimpan di baterai. "Motor listrik tidak membutuhkan asupan udara segar dari luar untuk menghasilkan daya dorong atau menggerakkan roda," kata Hendro. "Tanpa keberadaan filter udara, karburator, maupun saluran hisap, motor listrik dapat terus melaju secara stabil melintasi paparan abu vulkanik yang pekat. Risiko kehilangan tenaga akibat saluran udara yang tersumbat pun secara otomatis tereliminasi," katanya. Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat Meski demikian, keunggulan tersebut bukan berarti motor listrik bebas dari dampak abu vulkanik. Komponen luar seperti rem, bearing, suspensi, serta bagian lain yang terbuka tetap dapat terpapar. "Ketangguhan ini diperkuat oleh standar pengerjaan komponen utama kendaraan listrik yang dirancang tertutup rapat," kat Hendro. "Baterai utama, modul pengontrol daya, hingga dinamo penggerak umumnya dibungkus dalam kompartemen dengan tingkat kerapatan tinggi sesuai standar IP67," ujarnya. Standar IP67 menunjukkan tingkat perlindungan terhadap debu dan air dalam kondisi pengujian tertentu. Namun, penerapannya dapat berbeda pada setiap model dan komponen kendaraan. Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat Komponen Lebih Sedikit Motor listrik juga memiliki jumlah komponen mekanis bergerak yang relatif lebih sedikit dibandingkan mesin pembakaran internal. "Jika mesin bensin mengandalkan ratusan komponen bergesekan pada putaran tinggi yang sangat rentan aus apabila terkontaminasi debu, motor listrik hanya berfokus pada gerakan rotor dan bantalan roda," kata Hendro. "Minimnya komponen bergesekan ini secara langsung menekan risiko keausan dini saat partikel abrasif berterbangan di udara," ujarnya. "Kerusakan sistem penggerak akibat kontaminasi material keras pun dapat ditekan hingga tingkat paling minimal," katanya. Sepeda motor milik Len Moi (30) warga Magepanda, Kabupaten Sikka, dipenuhi abu vulkanik Bukan Kebal Kendati memiliki sejumlah keunggulan, motor listrik bukan berarti sepenuhnya kebal terhadap abu vulkanik. "Kendati demikian, memiliki keunggulan arsitektural bukan berarti motor listrik sepenuhnya kebal dan bebas dari dampak negatif erupsi gunung berapi," katanya. "Komponen luar yang tidak tertutup rapat tetap berhadapan langsung dengan material vulkanik yang ganas," ujarnya. Karena itu, ujar Hendro, ketika terjadi hujan abu vulkanik, langkah paling aman tetap mengurangi aktivitas berkendara dan mengikuti arahan dari otoritas setempat. Jika kendaraan terpaksa digunakan dalam kondisi yang memungkinkan, motor perlu dibersihkan dengan benar setelah terkena abu.