Harga mobil berbahan bakar minyak (BBM) kerap terlihat lebih murah dibandingkan mobil listrik. Namun, selisih tersebut dinilai belum mencerminkan seluruh biaya yang sebenarnya ditanggung, terutama dari dampak emisi yang tidak tecermin dalam harga jual. Di pasar, mobil listrik segmen entry level umumnya masih dibanderol di atas Rp 200 juta, misalnya Wuling Air EV. Sementara itu, mobil BBM di kelas terjangkau seperti Daihatsu Ayla masih berada di kisaran Rp 140 jutaan. Selisih harga awal ini membuat mobil BBM terlihat lebih ramah di kantong. Meski demikian, tren pasar menunjukkan kendaraan elektrifikasi mulai mendapat tempat. Data Gaikindo mencatat, penjualan kendaraan elektrifikasi—termasuk hybrid dan listrik murni—mencapai 82.525 unit sepanjang Januari–November 2025, dari total penjualan nasional 710.084 unit, atau sekitar 11,6 persen. Secara tahunan, penjualan kendaraan elektrifikasi diperkirakan melampaui 175.000 unit sepanjang 2025. Meski begitu, kendaraan konvensional masih mendominasi pasar otomotif nasional. Head of Center of Industry, Trade and Investment Indef, Andry Satrio Nugroho, mengatakan perbandingan harga mobil listrik dan mobil BBM belum sepenuhnya setara. Ilustrasi kendaraan listrik atau electric vehivle (EV). Pasalnya, ada komponen biaya yang belum tecermin dalam harga kendaraan konvensional, terutama yang berkaitan dengan emisi. “Ada biaya yang tidak terlihat dalam harga mobil BBM, terutama dari emisi,” kata Andry kepada Kompas.com, Kamis (16/4/2026). Ia menjelaskan, emisi dari kendaraan berbahan bakar fosil menimbulkan dampak ekonomi yang luas, mulai dari kerusakan lingkungan hingga beban kesehatan masyarakat. Namun, biaya tersebut tidak dibebankan langsung kepada pengguna kendaraan, melainkan ditanggung secara kolektif oleh masyarakat dan negara. Studi Bank Dunia (World Bank) misalnya mencatat, kerugian ekonomi akibat polusi udara di Indonesia bisa mencapai lebih dari 3 persen dari produk domestik bruto (PDB) per tahun, terutama dipicu oleh sektor transportasi dan industri. Selain itu, laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyebut polusi udara berkontribusi terhadap jutaan kasus penyakit pernapasan dan kematian dini setiap tahunnya secara global. Biaya kesehatan akibat paparan polusi ini pada akhirnya menjadi beban sistem kesehatan dan anggaran negara. Di sisi lain, biaya penggunaan mobil listrik relatif lebih rendah. Dengan konsumsi listrik sekitar 10 kWh per 100 km dan tarif listrik rumah tangga sekitar Rp 1.699 per kWh, biaya energi mobil listrik diperkirakan berada di kisaran Rp 170 per km. Sebagai perbandingan, mobil BBM dengan konsumsi rata-rata 1 liter untuk 15 km dan harga bensin Rp 13.000 per liter membutuhkan biaya sekitar Rp 866 per km. Artinya, biaya energi mobil BBM bisa lebih dari lima kali lipat dibandingkan mobil listrik. Menurut Andry, kondisi ini membuat harga mobil BBM terlihat lebih murah di permukaan, padahal terdapat biaya tambahan yang tidak masuk dalam struktur harga. Sebaliknya, mobil listrik tidak menghasilkan emisi langsung saat digunakan sehingga dinilai lebih efisien dari sisi biaya lingkungan. Indef menilai kondisi ini menciptakan ketimpangan dalam persaingan pasar. Mobil BBM masih diuntungkan karena tidak menanggung biaya emisi, sementara mobil listrik harus bersaing dengan harga awal yang relatif lebih tinggi. Karena itu, Indef mendorong adanya kebijakan yang dapat menyeimbangkan pasar, salah satunya melalui instrumen disinsentif emisi seperti cukai emisi untuk kendaraan berbahan bakar fosil. Dengan skema tersebut, biaya emisi diharapkan dapat tecermin dalam harga kendaraan sejak awal pembelian. Konsumen pun dapat melihat perbandingan biaya yang lebih utuh antara mobil listrik dan mobil BBM. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang