Munculnya berbagai bahan bakar alternatif, termasuk Bobibos yang belakangan ramai dibicarakan, membuat publik bertanya: apa sebenarnya tolok ukur teknis yang menentukan sebuah BBM aman dan layak digunakan di kendaraan sehari-hari? Di tengah maraknya inovasi energi baru, para ahli mengingatkan bahwa tidak semua cairan yang bisa terbakar otomatis memenuhi standar untuk masuk ke tangki kendaraan masyarakat. Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan bahwa kelayakan sebuah BBM selalu diukur melalui standar resmi. “Rujukannya ya tetap dua itu: spesifikasi dari Dirjen Migas dan World Wide Fuel Charter (WWFC). Di situlah parameter teknis BBM ditetapkan,” kata Tri kepada Kompas.com, Minggu (16/11/2025). Menurut Tri, kedua acuan tersebut memuat berbagai parameter penting yang secara langsung berpengaruh pada performa mesin, efisiensi pembakaran, serta dampak lingkungan. 1. Nilai Oktan (RON) atau Setana (CN) Pertamax Green, bensin dengan campuran etanol 5 persen Nilai oktan menunjukkan kemampuan BBM menahan knocking pada mesin bensin, sedangkan nilai setana menentukan karakter pembakaran pada mesin diesel. Jika tidak sesuai spesifikasi, risiko yang muncul mulai dari detonasi, penurunan performa, hingga potensi kerusakan komponen. 2. Kadar Air dan Kandungan Sedimen Keberadaan air dan partikel asing dapat mengganggu proses pembakaran dan menyebabkan korosi. Standar Dirjen Migas menetapkan batas ketat agar BBM aman digunakan di sistem injeksi modern yang sensitif. 3. Stabilitas Oksidasi Parameter ini menentukan seberapa cepat BBM mengalami degradasi selama penyimpanan. BBM yang tidak stabil dapat menghasilkan gum atau deposit yang menyumbat injektor. WWFC memberi perhatian besar karena mesin modern sangat rentan terhadap pembentukan deposit. 4. Volatilitas atau Tekanan Uap Volatilitas berpengaruh terhadap kemudahan penguapan BBM. Jika terlalu tinggi, dapat menyebabkan vapor lock; jika terlalu rendah, mesin bisa sulit hidup pada kondisi dingin. 5. Kandungan Sulfur Sulfur tinggi mempercepat kerusakan catalytic converter serta meningkatkan emisi. Kedua standar, baik Dirjen Migas maupun WWFC, terus menurunkan batas kandungan sulfur seiring penerapan regulasi emisi Euro. 6. Kandungan Logam dan Aditif Standar membatasi logam seperti timbal, mangan, dan natrium karena dapat mengganggu sensor oksigen dan meningkatkan deposit. Aditif diperbolehkan selama terbukti kompatibel dan tidak meninggalkan residu berbahaya. 7. Nilai Kalor Nilai kalor menunjukkan seberapa besar energi yang dilepaskan selama pembakaran. Semakin tinggi nilainya, semakin efisien tenaga yang dihasilkan. Parameter ini penting untuk membandingkan BBM fosil dengan bahan bakar alternatif seperti biofuel. Tri menegaskan bahwa seluruh parameter tersebut bukan formalitas, melainkan faktor yang menentukan apakah sebuah BBM benar-benar aman dan sesuai dengan teknologi kendaraan saat ini. “Kalau tidak sesuai spesifikasi Dirjen Migas atau WWFC, risikonya mulai dari gangguan mesin sampai meningkatnya emisi,” ujar Tri. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.