Kenaikan harga BBM diesel non subsidi mulai memengaruhi pasar mobil bekas bermesin diesel. Rama, dari showroom Rama Dagang Mobil, mengatakan penurunan harga mobil diesel bekas di kalangan pedagang sebetulnya belum terlalu signifikan. Menurut dia, mayoritas showroom masih menahan harga karena stok kendaraan yang tersedia juga tidak terlalu banyak. Kondisi berbeda justru mulai terlihat pada pasar user-to-user atau penjual pribadi. Pemilik kendaraan yang membutuhkan dana cepat cenderung lebih fleksibel dalam menentukan harga jual. Toyota Fortuner 2.8 GR Sport "Kalau penjualnya pribadi, biasanya mereka mungkin menurunkan harga sedikit," kata Rama kepada Kompas.com, belum lama ini. "Tapi itu pun sifatnya opsional, kalau memang ingin segera dilepas harganya turun, kalau tidak ya tetap ditahan," katanya. Rama menjelaskan, mobil diesel masih memiliki pasar tersendiri karena dikenal irit dan cocok digunakan untuk perjalanan jarak jauh maupun kebutuhan operasional. Karena itu, tidak semua pemilik kendaraan langsung menurunkan harga meski biaya BBM meningkat. Menurut dia, konsumen saat ini lebih berhati-hati sebelum membeli mobil diesel, terutama untuk model-model modern yang membutuhkan kualitas solar lebih baik agar performa mesin tetap optimal. Modifikasi Pajero Sport di GJAW 2025. Meski demikian, Andi Supriadi, pemilik Jordy Mobil, mengakui harga mobil diesel bekas di showroom miliknya mulai mengalami penyesuaian mengikuti kondisi pasar. “Pastinya turun,” kata Andi. Ia mengatakan, koreksi harga rata-rata bisa mencapai sekitar 10 persen, terutama untuk unit dengan kondisi kurang prima dibanding unit lain di kelas serupa. Kondisi ini menunjukkan pasar mobil bekas cukup sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar, khususnya pada kendaraan yang bergantung pada BBM diesel non subsidi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang