Menjelang usia tujuh dekade, Astra International melakukan reposisi strategi bisnis untuk menjaga pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang. Salah satu fokus utama yang diperkuat ialah bisnis otomotif yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan, bersama serta keuangan dan alat berat, sebagaimana tinjauan strategis yang diumumkan pada Senin (25/5/2026). Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan, perusahaan akan memperkuat portofolio bisnis yang selama ini memiliki kinerja solid, sekaligus meningkatkan disiplin dalam pengelolaan modal untuk menjaga pertumbuhan laba dan imbal hasil investasi. Ilustrasi penjualan mobil. “Strategi ini diharapkan dapat memperkuat kualitas portofolio bisnis dan meningkatkan efisiensi modal yang menghasilkan pertumbuhan laba serta nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Rudy. Astra menyebut tiga bisnis utama tersebut saat ini menyumbang sekitar 90 persen terhadap total laba perusahaan. Khusus di sektor otomotif, Astra tidak hanya berfokus pada penjualan kendaraan baru. Perusahaan juga akan mengoptimalkan seluruh ekosistem otomotif yang telah dibangun selama puluhan tahun. Ekosistem tersebut mencakup penjualan mobil baru dan bekas, bisnis suku cadang, layanan purna jual, hingga jaringan pelanggan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Strategi itu dilakukan untuk memperkuat posisi Astra sebagai salah satu pemain utama di industri otomotif nasional, sekaligus menjaga relevansi bisnis di tengah perubahan pasar otomotif global. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil nasional periode Januari-April 2026 mencapai 289.787 unit atau naik 12 persen dibanding periode sama tahun lalu. Pabrik Toyota di Karawang Namun pertumbuhan Astra Group masih berada di bawah rata-rata pasar. Sepanjang empat bulan pertama 2026, penjualan mobil Astra tercatat 143.365 unit atau hanya naik sekitar empat persen secara tahunan. Meski masih menjadi pemimpin pasar, pangsa pasar Astra kini berada di level 49 persen. Angka tersebut turun dibanding periode sama tahun lalu yang sempat berada di kisaran 51 hingga 56 persen. Kontributor terbesar penjualan Astra masih berasal dari Toyota dan Lexus dengan capaian 86.574 unit. Sementara Daihatsu menyumbang 48.280 unit, Isuzu 8.250 unit, serta UD Trucks 261 unit. Di sisi lain, merek non-Astra mulai tampil agresif. BYD dan Denza misalnya, membukukan penjualan gabungan 19.247 unit selama Januari-April 2026 dan mulai menjadi ancaman serius di pasar kendaraan elektrifikasi nasional. Sementara sektor jasa keuangan, perseroan akan mengarahkan untuk memaksimalkan potensi ekosistem melalui berbagai produk dan layanan bagi beragam segmen konsumen. Adapun bisnis alat berat dan solusi pertambangan akan fokus memperkuat rantai pasok pertambangan sekaligus mencari sumber pertumbuhan baru untuk meningkatkan daya saing. ROCKY HYBRID JANJIKAN KENYAMANAN DAN IRIT: President Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Yasushi Kyoda (kedua kiri), Chief Executive PT Astra International Daihatsu Sales Operation Officer (AI DSO) Fredy Handjaja (kedua kanan), Vice President Director PT ADM Erlan Krisnaring Cahyono (kiri), dan Chief Operation Officer PT AI DSO Budi Setiawan (kanan) memperkenalkan Daihatsu Rocky Hybrid dalam peluncuran di Pameran Otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025). Daihatsu tetap optimis meraih peringkat ke 2 di pasar otomotif Nasional, terlebih dengan adanya Rocky Hybrid. Sejumlah strategi telah disiapkan, kemampuan 34,5 Km per liter tentu jadi daya tarik pembeli, selain kelebihan lain yang melekat di mobil dengan harga sekitar Rp 300 juta. Selain tiga sektor utama tersebut, Astra tetap akan mengembangkan portofolio bisnis lain secara selektif. Pengembangan dilakukan dengan mempertimbangkan keselarasan strategi, kapabilitas perusahaan, serta kebutuhan pertumbuhan jangka panjang. Perseroan juga menegaskan akan memperkuat disiplin alokasi modal, termasuk melalui belanja modal, investasi bernilai tambah, pembagian dividen yang konsisten, hingga aksi pembelian kembali saham (share buyback) pada valuasi tertentu. Selama periode 2015 hingga 2025, laba bersih Astra tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat, dari Rp 15 triliun menjadi Rp 33 triliun atau naik sekitar 126 persen. Di saat yang sama, nilai dividen yang dibagikan kepada pemegang saham juga meningkat signifikan dari Rp 113 per saham pada 2015 menjadi Rp 390 per saham pada 2025. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang