Berkendara sepeda motor tidak hanya membutuhkan kemampuan mengendalikan gas, rem, dan setang. Pengendara juga perlu memiliki keseimbangan tubuh serta mampu menggunakan otot secara tepat agar motor tetap terkendali. Salah satu latihan yang dapat membantu kemampuan tersebut adalah static balance. Latihan ini biasanya menjadi bagian dari pelatihan keselamatan berkendara untuk melatih keseimbangan sekaligus kendali tubuh. Instruktur Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM) Hendrik Ferianto mengatakan, latihan balancing memiliki tahapan dan tujuan tertentu. Gerakan yang dilakukan saat latihan memang tidak selalu menggambarkan kondisi yang ditemui pengendara ketika berada di jalan raya. "Jadi sebenarnya kalau kita bicara pelatihan balancing, itu ada tahapannya. Sama mungkin kalau kita lihat latihan taekwondo atau karate. Kan memukul lurus, ya? Apakah kalau kita berkelahi seperti itu? Kan enggak, ya?," katanya di Semarang, Rabu (7/10/2026). "Ketika kita melihat itu, kita mungkin melihatnya aneh. Tadi sebenarnya yang mau dilatih di situ adalah bagaimana kita mengombinasikan antara pukulan dan pernapasan," ujarnya. Melatih Front Arm Menurut Hendrik, static balance bukan sekadar latihan untuk membuat pengendara mampu menjaga motor tetap seimbang. Ada kemampuan lain yang ingin dibangun melalui latihan tersebut, salah satunya adalah fokus ketika berkendara. "Nah, di static balance, yang mau kita latih adalah bagaimana bisa menjaga fokus ketika berkendara. Kemudian, bisa melatih otot bagian depan atau front arm," ujarnya. Hendrik Ferianto, Instruktur Safety Riding di PT Astra Honda Motor (AHM) "Kenapa, sebab, ketika berkendara ada otot-otot yang harus digunakan secara efektif.' Di mana itu? yaitu front arm atau lengan bagian depan," kata Hendrik. Kemampuan tersebut penting karena pengendara perlu menjaga kendali terhadap setang selama perjalanan. Penggunaan otot yang tepat dapat membantu pengendara tidak terlalu mengandalkan bagian tubuh tertentu ketika mengendalikan sepeda motor. Hendrik mengatakan, salah satu indikatornya dapat terlihat ketika peserta mengikuti latihan static balance. Rasa sakit pada bagian otot tertentu justru dapat menjadi tanda bahwa posisi atau penggunaan otot saat mengendalikan motor belum tepat. "Makanya ketika static balance, nanti ketahuan tuh pas latihan. kok bicep yang sakit?' Berarti Anda bukan naik motor, Anda nge-gym. Harusnya kita mampu menggunakan front arm, otot bagian depan," katanya. Ilustrasi naik motor. Kendali Setang Hendrik kemudian memberikan gambaran dari pebalap profesional. Menurut dia, penggunaan otot lengan bagian depan juga terlihat pada pebalap seperti Marc Marquez ketika mengendalikan sepeda motor. "Makanya kalau diperhatikan, seperti Marc Marquez, pebalap MotoGP. Itu kalau diangkat lengannya, bicep-nya kecil, tricep-nya kecil, lengan depannya kering kayak Popeye. Karena yang dipakai front arm. Freestyler juga sama, yang dipakai front arm," ujarnya. Meski pengendara motor harian tidak menghadapi kondisi seperti pebalap MotoGP, prinsip penggunaan otot dan kendali terhadap setang tetap relevan. Ilustrasi liburan dengan naik motor. Saat berkendara di jalan raya, pengendara harus mampu menjaga arah motor sekaligus mempertahankan keseimbangan, baik ketika melaju pelan maupun saat kecepatan meningkat. "Nah, dengan static balance, mereka mendapatkan basic pelatihan terkait penggunaan otot atau kontrol keseimbangan, atau kontrol setang kemudi menggunakan otot bagian depan," ujarnya. Dengan demikian, kata Hendrik, pengendara yang mampu menjaga keseimbangan dan menggunakan otot secara efektif akan lebih mudah mempertahankan kendali terhadap motor. "Tujuannya ke situ, untuk melatih itu. Sehingga harapannya nanti, ketika front arm kita kuat, kita mampu mengontrol setang kemudi dengan baik. Baik itu pada kecepatan rendah maupun pada kecepatan tinggi," katanya. Hal ini terutama dibutuhkan ketika harus menjaga arah kendaraan dalam berbagai kondisi kecepatan.