Mitsubishi XForce HEV hadir mengisi SUV segmen-B hybrid lima penumpang di Indonesia. Kelas yang diisi para pemain seperti Toyota Yaris Cross HEV dan Honda HR-V HEV. Selain bersaing dengan model Jepang, pada rentang harga Rp 450 jutaan, XForce HEV juga harus menghadapi sejumlah model plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) asal China. Pereli nasional sekaligus Brand Ambassador Mitsubishi, Rifat Sungkar, mengatakan, ada beberapa keunggulan teknis pada XForce Hybrid. Menurut Rifat, keunggulan tersebut tidak hanya berasal dari tambahan motor listrik, tetapi juga dari rancangan mesin bensinnya. Sebab pada dasarnya mesin bensin yang digunakan juga harus dirancang agar mampu bekerja selaras dengan sistem elektrifikasi. Mitsubishi XForce HEV "Yang kita tahu bahwa kalau kita memutuskan untuk memiliki mesin hybrid, artinya kita harus punya kepercayaan diri dengan mesin yang bagus," katanya di Karawang, Jumat (18/7/2026). Salah satu contohnya terlihat pada mesin yang digunakan. Menurut Rifat, perbedaan paling mendasar terlihat dari mesin yang digunakan pada XForce Hybrid dan XForce bensin. Jika XForce bensin memakai mesin 1.5 liter yang satu basis dengan Xpander, maka XForce HEV menggunakan mesin 1.6 liter DOHC MIVEC yang dikembangkan khusus untuk sistem hybrid. "Kita bisa bedain antara mesin ICE yang dipakai di XForce 1.500 cc, kompresinya 10:1. Untuk mesin HEV itu 14:1," ujarnya. "Jadi kita masih confidence dengan mesin, kita bisa menjalankan mobil dengan konsumsi yang baik, performa yang baik," kata Rifat. Mitsubishi New Xforce Hybrid Perbedaan spesifikasi tersebut juga diikuti peningkatan performa. Motor listrik pada XForce HEV menghasilkan tenaga 114 Tk dengan torsi 255 Nm. Sementara itu, mesin bensinnya menyumbang tenaga 106 Tk dan torsi 134 Nm. Selain kapasitas mesin yang lebih besar, rasio kompresinya juga meningkat menjadi 14:1. Sebagai perbandingan, mesin XForce bensin memiliki rasio kompresi 10:1. Baterai Ringkas, Kabin Lapang Tak hanya mesinnya yang berubah, Mitsubishi juga memperhatikan penempatan baterai agar ruang kabin tetap optimal. Menurut Rifat, ukuran baterai pada mobil hybrid jauh lebih kecil dibandingkan mobil PHEV maupun mobil listrik murni. "Nomor dua adalah, secara sasis, kita itu sangat menjunjung tinggi ruang di kabin," kata Rifat. Mitsubishi New Xforce Hybrid "Nah, kalau sekarang dibandingkan antara mobil hybrid sama mobil PHEV sama mobil EV, let's say hybrid itu baterainya 50-70 Kg, kemudian PHEV mungkin 120-200 Kg, kemudian mobil EV mungkin 350-700 Kg, kurang lebih kayak gitu," ujarnya. Karena ukuran baterainya lebih ringkas, mobil hybrid tidak memerlukan perubahan besar pada struktur kendaraan. "Nah, itu akan menjadi satu pertimbangan ketika sasis ini harus disesuaikan antara mobil biasa dan mobil hybrid. Jadi kita lihat, berat enggak akan jadi problem di mobil ini (XForce HEV)," katanya. Handling Dijaga Selain menjaga ruang kabin, Mitsubishi juga berupaya mempertahankan karakter pengendalian XForce. Karena itu, Mitsubishi berupaya menjaga tambahan bobot XForce HEV tetap minimal agar sensasi mengemudinya tidak jauh berbeda dengan XForce bermesin bensin. Mitsubishi XForce HEV "Dan yang ketiga adalah sebetulnya struktur sasis. Ketika kita ingin mendapatkan sensasi berkendara, semakin berat mobilnya, semakin beda rasa mobilnya," kata Rifat. Dengan bobot baterai yang relatif ringan, perubahan karakter berkendara pun dapat ditekan. "Nah, kita tetap akan memberikan means of easiness di dalam mobil kita, sehingga tambahan baterai yang hanya di bawah 100 Kg, itu enggak akan banyak mengubah handling mobilnya," ujarnya. "Jadi rasanya antara mobil yang ICE sama mobil yang hybrid akan tetap serupa dari masalah handling," kata Rifat.