genap (gage) di Jakarta dinilai mulai memasuki fase kejenuhan setelah diterapkan selama sekitar satu dekade. Kebijakan yang menggantikan sistem 3-in-1 pada 2016 tersebut memang mampu mengendalikan kepadatan kendaraan di sejumlah ruas jalan, tetapi dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan kemacetan secara menyeluruh. Akademisi Prodi Teknik Sipil sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, mengatakan, efektivitas ganjil-genap lebih terlihat dalam jangka pendek hingga menengah. Ilustrasi ganjil genap Jakarta Menurut dia, aturan tersebut cukup efektif di koridor tertentu, seperti Jalan Sudirman-Thamrin, Gatot Subroto, dan Rasuna Said. Pembatasan kendaraan berdasarkan pelat nomor dapat menekan volume kendaraan pada jam sibuk sehingga lalu lintas tetap bergerak. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta mengurangi jumlah kendaraan secara keseluruhan. Kepadatan justru berpotensi berpindah ke ruas jalan lain yang tidak terkena aturan ganjil-genap. Kemacetan Bergeser, Bukan Hilang Djoko menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya fenomena traffic displacement. Ketika kendaraan dibatasi memasuki jalan utama, sebagian pengendara mencari rute alternatif melalui jalan lingkungan maupun jalan kolektor. Lalu lintas kendaraan di Tol Dalam Kota Jakarta tampak padat pada jam pulang kerja di hari ketiga pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap dua, Rabu (16/9/2020). Pembatasan kendaraan bermotor melalui skema ganjil genap di berbagai ruas Ibu Kota resmi dicabut selama PSBB tahap dua. Akibatnya, kemacetan yang sebelumnya terkonsentrasi di koridor utama dapat bergeser ke kawasan lain. Terlebih, kebijakan ganjil-genap saat ini hanya menyasar kendaraan roda empat atau lebih, sementara jumlah sepeda motor terus bertambah. Ruang jalan yang ditinggalkan mobil akibat pembatasan tersebut pada akhirnya dapat kembali dipenuhi kendaraan lain, termasuk sepeda motor yang tidak terkena aturan ganjil-genap. “Pergeseran waktu perjalanan, pengendara memilih berangkat jauh lebih awal sebelum jam Gage dimulai (sebelum pukul 06.00 WIB) atau pulang setelah jam Gage berakhir (setelah pukul 21.00 WIB), yang menyebabkan durasi kemacetan Jakarta secara keseluruhan makin memanjang,” kata Djoko, kepada Kompas.com (2/10/2026). Aturan Ganjil Genap Jakarta Adaptasi Aturan Selain perpindahan lalu lintas, persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah perubahan perilaku masyarakat. Djoko menyebut kebijakan ganjil-genap yang diterapkan terlalu lama dapat mengalami policy fatigue atau kejenuhan kebijakan. Masyarakat akan semakin memahami pola pembatasan dan mencari cara agar tetap dapat menggunakan kendaraan pribadi tanpa melanggar aturan. Di antaranya, penggunaan pelat nomor palsu atau ganda. Ini menjadi pelanggaran hukum yang makin marak. Para pedagang pelat nomor kendaraan yang berada di Jalan Matraman, Jakarta Timur, Senin (3/6/2024). “Pengendara sengaja mengganti pleat kendaraan dengan plat palsu demi mengelabui petugas atau kamera ETLE,” ucap Djoko. Selain itu, bentuk adaptasi yang muncul adalah kepemilikan lebih dari satu mobil dengan kombinasi pelat nomor ganjil dan genap. Dengan cara tersebut, pemilik kendaraan tetap memiliki pilihan untuk menggunakan mobil pada hari yang sesuai dengan ketentuan. Menurut Djoko, kondisi ini justru berpotensi kontraproduktif karena tujuan pembatasan kendaraan dapat tergerus oleh bertambahnya jumlah kendaraan yang dimiliki masyarakat. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti kondisi lalu lintas di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, yang kerap padat akibat bus Transjakarta parkir di pinggir jalan. Alih-alih beralih ke transportasi umum, kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan finansial justru dapat memilih membeli mobil kedua, termasuk mobil bekas dengan harga lebih terjangkau, untuk mengatasi pembatasan tersebut. Karena itu, evaluasi kebijakan ganjil-genap menjadi penting agar pembatasan kendaraan tidak berhenti pada pengaturan pelat nomor. Kebijakan juga perlu mempertimbangkan perubahan perilaku pengguna jalan serta pertumbuhan jumlah kendaraan secara keseluruhan.