Pasar helm premium di Indonesia didominasi oleh merek-merek besar asal Jepang seperti Arai dan Shoei. Meski banyak merek Eropa atau Amerika yang menawarkan desain agresif dan teknologi canggih, nyatanya merek "itu-itu saja" yang tetap menjadi primadona di kalangan bikers Tanah Air. Rupanya, ada alasan yang membuat merek Jepang lebih unggul di mata konsumen lokal dibandingkan merek seperti HJC, Simpson, atau Scorpion. Ragam helm premium di Jakarta Fair 2017 Aditya Wahyu Nugroho, pemilik bengkel spesialis servis helm 1DS Inside menjelaskan, faktor utama adalah kecocokan bentuk interior helm dengan anatomi kepala orang Indonesia. Helm Eropa umumnya memiliki profil long oval atau lonjong, yang sering kali menimbulkan rasa sakit saat dipakai orang Asia. "Helm Eropa pas dipakai itu sakit karena menekan bagian samping kepala. Bahkan untuk merek seperti HJC, meskipun asalnya dari Korea Selatan, tapi orientasi pasarnya ke Eropa. Akhirnya kalau dipakai orang kita, kurang nyaman," ujar Wahyu kepada Kompas.com belum lama ini. Wahyu menambahkan, banyak pengendara yang memaksakan diri membeli helm profil Eropa dengan cara upsize atau mengambil ukuran yang lebih besar agar tidak sakit. Padahal, cara ini sangat berisiko dari sisi keselamatan. "Kalau upsize itu sudah jauh dari kata safety karena helm jadi oblak. Bahaya, karena helm tidak memegang kepala dengan sempurna," ucap Wahyu. Berbeda dengan AGV yang meski berasal dari Eropa namun sudah menyediakan varian Asian Fit, merek-merek Jepang seperti Arai dan Shoei sejak awal memang sudah memiliki karakter yang lebih bersahabat dengan kepala orang Asia yang cenderung bulat. Selain masalah kenyamanan, ketersediaan suku cadang atau spare part menjadi penentu keberlanjutan sebuah merek di pasar. Dalam hal ini, Wahyu mengibaratkan Arai seperti merek motor Yamaha di Indonesia. "Arai itu kenapa sampai saat ini masih sangat diminati? Karena spare part-nya banyak banget. Kalau kita pakai Arai, entah jatuh sendiri atau crash, cari spare part-nya ada dan tidak khawatir. Ibaratnya di motor itu seperti Yamaha, suku cadangnya banyak dan mudah didapat," tuturnya. Sementara itu, Shoei diibaratkan seperti Honda yang suku cadangnya ada namun harganya relatif lebih mahal. Hal inilah yang membuat Arai tetap menjadi favorit nomor satu bagi banyak orang. "Kalau merek lain seperti HJC, mereka memang kasih bonus visor dua saat beli, tapi mereka tidak menyediakan spare part pendukung seperti yang disediakan Arai. Padahal helm dipakai outdoor, risiko jatuh atau rusak itu pasti ada," pungkas Wahyu. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang