Industri otomotif Amerika Serikat (AS) ramai-ramai mendesak Presiden AS Donald Trump agar tidak membuka akses bagi produsen mobil China ke pasar domestik. Desakan tersebut muncul menjelang pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026. Sebelumnya, Trump sempat menyatakan dukungannya apabila produsen otomotif China ingin membangun pabrik di AS dan mempekerjakan tenaga kerja lokal. Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara dalam konferensi pers di Brady Briefing Room, Gedung Putih, Washington DC, sesaat setelah insiden penembakan makan malam pada 25 April 2026. “Saya suka itu. Biarkan China masuk, biarkan Jepang masuk,” kata Trump saat berbicara di Detroit Economic Club pada Januari lalu. Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran. Selama ini, produsen kendaraan di Negeri Paman Sam konsisten mendorong pemerintah memperketat masuknya mobil China melalui tarif tinggi dan aturan keamanan data kendaraan. Dilansir Reuters, Selasa (13/5/2026), produsen kendaraan, pemasok komponen, industri baja, serikat pekerja, hingga anggota parlemen dari Partai Demokrat dan Republik kini kembali memperkuat penolakan tersebut. Mereka menilai produsen mobil China memiliki dukungan pemerintah yang besar, kapasitas produksi masif, teknologi kendaraan listrik yang semakin maju, serta harga jual yang jauh lebih murah dibandingkan merek global lain. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu industri otomotif lokal sekaligus melemahkan basis manufaktur AS. Semarak mobil imitasi China. Senator Demokrat, Elissa Slotkin, bahkan secara terbuka meminta Trump tidak membuat kesepakatan dengan Xi Jinping yang berpotensi membuka jalan bagi investasi otomotif China di AS. “Jangan membuat kesepakatan yang buruk,” ujar Slotkin. Ia juga mendukung rancangan undang-undang bersama Senator Republik Bernie Moreno dari Ohio yang bertujuan melarang kendaraan China beredar di AS karena dinilai berpotensi mengumpulkan data pengguna. RUU bernama Connected Vehicle Security Act tersebut akan memperkuat aturan era Presiden Joe Biden yang sebelumnya membatasi kendaraan asal China masuk ke pasar AS. Kompak menolak Penolakan terhadap kendaraan China juga datang dari berbagai asosiasi industri otomotif AS, mulai dari produsen mobil lokal, merek asing, diler, hingga pemasok suku cadang. Dalam surat resmi kepada pemerintah AS pada Maret lalu, mereka menyebut ambisi China mendominasi industri otomotif global menjadi ancaman langsung bagi daya saing industri, keamanan nasional, dan manufaktur otomotif Amerika. Lembaga Information Technology and Innovation Foundation (ITIF) turut mendukung pembatasan tersebut. Ilustrasi Pabrik Mobil Tesla di Amerika Serikat Wakil Presiden ITIF Stephen Ezell mengatakan, produsen mobil China bukan pesaing biasa karena selama puluhan tahun mendapat dukungan negara untuk menguasai industri teknologi maju. “Jika perusahaan China sudah masuk dan tertanam di pasar AS, dampak ekonomi dan keamanan nasionalnya akan sulit dibalikkan,” kata Ezell. Meski demikian, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer memastikan belum ada rencana mengubah aturan kendaraan terkoneksi (connected car), serta sektor otomotif tidak menjadi agenda utama dalam pertemuan AS-China. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick juga disebut menolak investasi otomotif China di Amerika. Namun, sejumlah pihak tetap khawatir Trump sewaktu-waktu membuka peluang baru bagi investasi otomotif China demi meningkatkan produksi kendaraan di AS. Harga murah jadi ancaman utama Industri otomotif AS juga tidak ingin mengalami situasi seperti di Eropa dan Meksiko, di mana merek mobil China terus meningkatkan pangsa pasar dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah tingginya harga mobil baru di AS yang rata-rata mencapai 51.000 dollar AS atau sekitar Rp 837 juta, kendaraan China dinilai berpotensi menarik minat konsumen karena dijual jauh lebih murah. Tahun lalu, pangsa pasar merek mobil China di Eropa naik menjadi 6 persen. Mobil buatan China menunggu untuk di ekspor di pelabuihan Dalian, China Bahkan di Norwegia mencapai 14 persen, Italia 9 persen, Inggris 11 persen, dan Spanyol 9 persen. Sementara di Meksiko, sebanyak 34 merek otomotif China kini telah dipasarkan dan menguasai sekitar 15 persen pasar otomotif nasional. Salah satu contohnya adalah Geely EX2 EV yang dijual mulai 22.700 dollar AS atau sekitar Rp 372 juta di Meksiko. Harga tersebut jauh lebih murah dibandingkan Tesla Model 3 di AS yang mencapai 38.630 dollar AS atau setara Rp 634 juta. Bahkan, Toyota Motor Corporation disebut mulai kesulitan menghadapi agresivitas harga mobil China di pasar Meksiko. “Jelas ada tingkat dukungan pemerintah tertentu, karena kalau tidak, mereka tidak mungkin bisa menjual dengan harga seperti itu,” kata Manajer Divisi Toyota Motor North America, David Christ. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang