Saya akhirnya bisa melihat langsung seperti apa sosok Honda GB350, motor sport bergaya klasik yang selama ini belum pernah ada di lini sepeda motor Honda di Indonesia. Unit yang direview ini didatangkan langsung secara CBU dari Jepang. Dan saat pertama melihatnya di Gas Motor, Kemang, kesan retronya memang langsung terasa kuat. Di Indonesia, motor bergaya klasik memang sudah ada sejak lama. Mulai dari skutik retro sampai motor sport modern klasik seperti Yamaha XSR, Kawasaki W175, Estrella 250, hingga moge ala Inggris seperti Royal Enfield. Honda GB350 di Gas Motor, Kemang, Jakarta Selatan. Tapi banyak orang selalu bertanya, kapan Honda serius bermain di segmen ini? Begitu Honda GB350 hadir di depan mata, saya langsung merasa motor ini memang dibuat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Secara tampilan, motor ini benar-benar kental nuansa klasiknya. Bahkan kalau sekilas dilihat, aura motor Inggris lawas sangat terasa. Apalagi pada varian GB350 C atau tipe Classic yang saya jajal ini. Bagian yang paling menarik perhatian justru detail-detail kecilnya. Sepatbor depan misalnya, masih memakai material plat dengan bentuk membulat yang tebal. Cover sokbreker depan juga memakai bahan serupa sehingga motor terlihat padat dan kokoh. Motor klasik Honda GB350 Warna doff yang dipadukan dengan banyak aksen chrome membuat tampilannya semakin berkelas. Tapi di balik gaya lawasnya, fitur modern tetap terasa. Lampu sudah LED, panel instrumen semi digital, ABS dual channel, sampai fitur HSTC atau traction control juga sudah tersedia. Saat duduk di atas motor, impresi pertama saya justru cukup nyaman. Posisi setang yang ditambah raiser, dibuat dekat ke pengendara sehingga badan tetap tegak. Karakter riding-nya santai banget. Motor klasik Honda GB350 Meski tinggi joknya membuat saya yang memiliki tinggi badan sekitar 165 cm masih sedikit jinjit saat menapak, posisi berkendaranya tetap terasa natural. Joknya memang tidak terlalu empuk, tetapi dimensinya lebar sehingga menopang badan dengan cukup baik. Bagian spidometer juga menarik. Desainnya klasik dengan lingkar krom dan font lawas, tapi di tengahnya ada layar LCD kecil yang memuat banyak informasi. Dari indikator gigi, konsumsi BBM rata-rata, trip meter, sisa jarak tempuh, sampai voltase aki. Sensasi klasik paling terasa justru saat melihat area mesin. Honda GB350 memakai mesin SOHC satu silinder 348 cc dengan karakter long stroke. Bentuk head silindernya besar khas motor-motor jadul, dipadukan knalpot krom panjang yang membingkai sisi bawah motor. Mesin motor Honda GB350 Mesin long stroke seperti ini biasanya terkenal kuat di torsi bawah. Jadi karakter berkendaranya memang lebih cocok buat cruising santai dibanding mengejar putaran atas. Menariknya, Honda juga memasang balancing shaft untuk meredam getaran mesin satu silinder. Jadi meski karakternya klasik, kenyamanan tetap diperhatikan. Honda GB350 ini seperti motor yang dibuat bukan untuk terburu-buru. Bukan motor yang mengajak pengendara agresif di jalan, melainkan menikmati perjalanan sambil menikmati detail desain dan karakter mesinnya. Motor klasik Honda GB350 Ketika motor diam dan saya coba goyangkan sedikit, bobotnya memang langsung terasa. Bahkan dibanding motor 250 cc modern, GB350 terasa lebih berat. Maklum saja, berdasarkan spesifikasinya, bobot motor ini bisa tembus 179 kg. Sayangnya, saya baru bisa menjajal motor ini secara statis. Misalnya ada kesempatan buat test ride pasti bakal seru banget. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang