Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) buka suara soal fenomena dealer mobil Jepang berguguran di Tanah Air. Mereka mengklaim, situasi tersebut merupakan fenomena biasa dalam industri kendaraan bermotor.Kukuh Kumara selaku Sekretaris Umum (Sekum) Gaikindo mengatakan, meski menutup sejumlah dealer di Pulau Jawa, namun brand-brand Jepang tetap membuka dealer di kawasan lain. Tujuannya, agar pasar pabrikan tak terlalu Jawa-sentris. "Kita dengar informasi itu, ini masalah bisnis. Detailnya saya nggak tahu, intinya mereka punya pilihan," ujar Kukuh Kumara saat disambangi detikOto di kantor pusat Gaikindo di Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (16/4)."Tapi perlu dilihat, yang selalu menjadi berita kan penutupan dealer, informasi yang kami terima banyak dealer baru yang buka, tapi bukan di Pulau Jawa. Kenapa ada yang tutup? Itu pilihan bisnis dan bersifat independen," tambahnya.Kukuh Kumara Foto: Ari SaputraKukuh menilai, jumlah dealer brand Jepang di Pulau Jawa saat ini sudah memadai untuk mengakomodasi permintaan konsumen di kawasan setempat. Sehingga, pabrikan melakukan penambahan jaringan di luar pulau."Jumlah dealer di sini sudah memadai untuk melayani kustomer yang ada. Okupasi reach-nya itu masih 60-70 persen, kalau sampai 90-100 persen ya perlu ditambah," tuturnya."Itu juga sejalan dengan tren kita yang harus memberikan kesempatan ke luar Pulau Jawa. Dulu kan Jawa bisa 80 persen, sekarang tinggal 60 persen. Yang lain tumbuh di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Ini memberikan kesempatan seluruh masyarakat Indonesia membeli kendaraan," kata dia menambahkan.Sebagai catatan, persaingan otomotif di Indonesia makin ketat seiring kemunculan brand-brand baru asal China. Terbaru, salah satu dealer Honda Prospect Motor (HPM) harus menutup dealer-nya di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan."Kami Honda Pondok Pinang, pamit undur diri. Terimakasih atas dukungan dan kepercayaannya terhadap kami," demikian bunyi takarir akun @Hondaponpin, beberapa waktu lalu.Dealer Honda Ponpin. Foto: Doc. HondaMenteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, produsen mobil asal Jepang harus bisa menyesuaikan diri dengan keinginan pasar di Indonesia. Sebab, hanya dengan cara tersebut, mereka bisa tetap bersaing dengan brand-brand asal China.Situasi itu, kata Agus, tentu menjadi tantangan untuk merek-merek asal Jepang. Mereka harus putar otak untuk tetap bisa relevan dengan konsumen-konsumen di Tanah Air."Saya kira itu juga challenge untuk brand Jepang ya karena semuanya ini kan berkaitan dengan market. Jadi dia harus bisa menyesuaikan apa yang menjadi keinginan market," ujar Agus Gumiwang, dikutip dari Antaranews.Selain itu, Agus mengingatkan, produsen Jepang perlu lebih jeli membaca arah kebijakan pemerintah yang kini bergerak cepat menuju kendaraan berbasis listrik atau electric vehicle (EV). Menurutnya, pergeseran itu akan semakin kuat seiring dorongan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.Menurutnya, dinamika global termasuk konflik di kawasan Timur Tengah memberikan pelajaran penting terkait ketahanan energi nasional. Itulah mengapa, Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada energi berbasis fosil dalam proses produksi, termasuk di sektor otomotif."Saya kira itu produsen-produsen Jepang harus bisa melihat bahwa kita akan shifting ke situ dan ini arahan langsung dari Bapak Presiden agar kita bisa segera full pada EV, baik itu motor maupun mobil termasuk truk, termasuk bus juga," kata dia.