Ketika mobil mengalami kecelakaan atau tabrakan keras, komponen yang perlu diperbaiki tidak hanya sebatas bagian bodi luar saja. Sistem keselamatan pasif di dalam kabin, seperti airbag, sensor-sensor, hingga seatbelt juga wajib mendapatkan penanganan khusus. Sebab, memulihkan sistem keselamatan yang sudah meledak (deployed) tidak semudah yang dibayangkan dan tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Alvian Akmal, pemilik diler dan bengkel spesialis Beli Mobil Rusak (BMR) di Pondok Gede, mengatakan bahwa pengerjaan sistem airbag pasca-insiden sebenarnya gampang-gampang susah dan memiliki tahapan teknis yang krusial. Guna memberikan keamanan sebagai prioritas bagi pengguna, New MG ZS dibekali fitur sistem pengereman anti-lock braking system (ABS), electronic brakeforce distribution (EBD), electronic stability program (ESP), hill start assist (HSA), serta enam buah airbag ganda. Dua Metode Perbaikan Sistem Airbag Menurut Alvian, secara teknis ada dua macam metode pengerjaan untuk mengembalikan fungsi airbag yang telah meledak akibat benturan. Pilihan metode ini biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pemilik kendaraan. "Jadi kita ganti di peledaknya (inflator) nih. Karena kan yang setelah dia meledak, yang rusak itu peledaknya. Kalau balon dan lain-lain itu kan sebenarnya tetap normal," ujar Alvian kepada Kompas.com belum lama ini. Selain metode servis atau hanya mengganti komponen pemicu ledakannya saja, pemilik mobil juga bisa memilih metode penggantian komponen secara menyeluruh. "Ada juga yang kita ganti total. Jadi ganti full set. Jadi paling terakhir-terakhir tinggal kita nge-set antara modul dan mobil karena kan belum sinkron," kata dia. Wajib Melalui Tahapan Komputasi "Coding" Meskipun komponen fisik airbag baru atau hasil servis sudah terpasang dengan rapi di dalam kemudi maupun dasbor, sistem keselamatan ini dipastikan belum bisa langsung bekerja. Kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh bengkel awam adalah melewatkan proses sinkronisasi komputer. Alvian menjelaskan, jika modul baru langsung dipasang begitu saja tanpa penyelarasan sistem, lampu indikator airbag pada panel instrumen akan tetap menyala dan sistem dianggap malafungsi oleh mobil. "Iya, nah itu ada namanya tahap-tahap coding. Jadi, namanya kita penyesuaian antara kode dari modul baru ke mobil," tutur Alvian. Oleh karena itu, proses coding atau kalibrasi ulang menggunakan perangkat komputer pemindai khusus menjadi menu wajib. Langkah digital ini dilakukan agar komputer pusat mobil (Engine Control Unit/ECU) dapat mengenali dan menerima modul keselamatan yang baru, sehingga sistem siap kembali melindungi penumpang jika sewaktu-waktu terjadi benturan di masa depan.