Honda PCX 160 menjadi salah satu skutik bongsor yang banyak diandalkan untuk mobilitas harian. Namun, dengan harga Pertamax (RON 92) yang saat ini bertahan di angka Rp 16.250 per liter, sebagian pemilik mulai merasa pengeluaran untuk bahan bakar terasa cukup tinggi. Kondisi ini membuat tidak sedikit pengendara yang menimbang-nimbang untuk "turun kasta" menggunakan Pertalite (RON 90) demi menekan pengeluaran rutin. Pertanyaannya, dengan kapasitas tangki mencapai 8,1 liter, seberapa besar penghematannya dan apakah aman bagi mesin? Rekomendasi Resmi di Buku Manual Jika merujuk pada panduan resmi pabrikan, langkah turun kasta ke Pertalite ini sebenarnya tidak dilarang keras. Dalam buku pedoman pemilik Honda PCX 160, tertulis: “Kendaraan Anda dirancang untuk menggunakan angka oktan RON (Research Octane Number) 90 atau lebih tinggi”. Honda PCX 160 2025 Mengingat Pertalite memiliki angka oktan RON 90, maka secara regulasi panduan umum, tangki PCX 160 masih bisa dan memungkinkan untuk diisi bbm subsidi tersebut, terutama dalam kondisi darurat atau saat ingin menghemat pengeluaran. Dilema Kompresi Tinggi 12:1 Meski buku manual memberikan lampu hijau untuk RON 90, pemilik PCX 160 tidak boleh melupakan spesifikasi teknis mesin eSP+ 4-katup yang digendongnya. Motor ini memiliki rasio kompresi yang terhitung tinggi, yaitu 12:1. Secara teori mekanis, mesin dengan kompresi 12:1 ke atas sangat disarankan mengonsumsi BBM minimal RON 92 (Pertamax) atau bahkan RON 95. Bahan bakar dengan oktan yang sesuai memastikan pembakaran terjadi tepat waktu, mencegah gejala knocking, serta menjaga performa motor tetap responsif. Jika dipaksakan terus-menerus menggunakan RON 90, efek jangka panjangnya bisa memicu penumpukan kerak karbon di ruang bakar yang berujung pada penurunan efisiensi bbm. Hitungan Biaya Isi Tangki Penuh Untuk melihat seberapa signifikan perbedaan pengeluarannya, berikut simulasi hitungan biaya isi full tank (8,1 liter) Honda PCX 160 dari posisi kosong: Pertalite (RON 90): Rp 10.000 x 8,1 Liter = Rp 81.000 Pertamax (RON 92): Rp 16.250 x 8,1 Liter = Rp 131.625 Pertamax Green 95 (RON 95): Rp 17.000 x 8,1 Liter = Rp 137.700 Melihat komparasi tersebut, selisih biaya sekali isi penuh antara Pertalite dan Pertamax memang lumayan, yakni mencapai Rp 50.625. Angka inilah yang menjadi alasan utama mengapa sebagian pemilik memilih beralih ke Pertalite. Sementara itu, jika ingin memberikan asupan terbaik dengan bbm bioetanol seperti Pertamax Green 95, biayanya hanya berselisih Rp 6.075 dari Pertamax biasa. Keputusan akhir tentu ada di tangan pemilik kendaraan. Turun kasta ke Pertalite memang bisa langsung menyelamatkan dompet saat di SPBU, namun menggunakan Pertamax tetap menjadi investasi terbaik demi menjaga keandalan mesin kompresi tinggi dalam jangka panjang.