Kerucut lalu lintas atau traffic cone atau juga disebut safety cone merupakan perlengkapan yang sering dijumpai di jalan. Benda berwarna oranye ini biasanya dipasang untuk mengarahkan arus kendaraan, menandai area pekerjaan jalan, hingga memberi peringatan saat terjadi kecelakaan. Meski terlihat sederhana, traffic cone memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan pengguna jalan. Alat ini membantu pengemudi memahami perubahan kondisi lalu lintas, seperti adanya penyempitan jalan, pengalihan jalur, atau area yang harus dihindari. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa traffic cone memiliki sejarah panjang sebelum menjadi perlengkapan keselamatan jalan seperti sekarang. Traffic cone meleyot di sejumlah titik jalan di Semarang. Awal Mula Dilansir dari Summitflagging, sebelum traffic cone digunakan secara luas, penanda keselamatan jalan biasanya hanya berupa tiang atau papan tanda sederhana. Penanda tersebut kurang efektif karena mudah rusak dan tidak selalu terlihat jelas oleh pengemudi. Seiring meningkatnya jumlah kendaraan di jalan pada awal abad ke-20, muncul kebutuhan akan alat penanda yang lebih praktis dan mudah terlihat. Pada 1940, seorang insinyur asal Los Angeles, Amerika Serikat, bernama Charles D. Scanlon memperkenalkan desain traffic cone modern. Ia membuat penanda jalan berbentuk kerucut menggunakan bahan yang ringan dan fleksibel. Desain ini memiliki dasar yang cukup berat agar tidak mudah jatuh, sementara bagian atasnya lentur sehingga dapat kembali ke bentuk semula ketika tersenggol kendaraan. Traffic cone berwarna jingga kini memagari area pedestrian di kolong Stasiun MRT Haji Nawi yang sebelumnya dipakai untuk aktivitas parkir liar. Mulai Populer Penggunaan traffic cone mulai meluas pada 1950-an hingga 1960-an, terutama di Amerika Serikat. Saat itu, alat ini banyak dipakai di area konstruksi jalan dan lokasi perbaikan infrastruktur. Pada periode tersebut, traffic cone juga mulai dilengkapi pita reflektif agar lebih mudah terlihat pada malam hari. Selain itu, bahan pembuatnya beralih ke plastik sehingga lebih tahan lama dan ringan untuk dipindahkan. Warna oranye kemudian dipilih sebagai standar karena memiliki tingkat visibilitas tinggi sehingga mudah dikenali pengemudi dari jarak jauh. Atas diskresi Kepolisian, Jasa Marga memberlakukan skema lalu lintas lawan arus atau contraflow dari Km 44+400 hingga Km 46+400 di ruas Tol Jagorawi arah Puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/5/2025) pagi Standarisasi Memasuki 1970-an, ukuran, desain, dan warna traffic cone mulai distandardisasi. Penambahan garis reflektif membuat alat ini semakin efektif digunakan pada kondisi minim cahaya. Sejak saat itu, traffic cone tidak hanya digunakan di lokasi konstruksi, tetapi juga untuk menandai lokasi kecelakaan, pengalihan arus lalu lintas, hingga penutupan jalan sementara. Pada 1980-an hingga 1990-an, berbagai inovasi mulai diterapkan pada traffic cone. Material reflektif yang lebih baik membuatnya semakin mudah terlihat, bahkan dalam kondisi cuaca buruk. Selain itu, mulai diperkenalkan traffic cone yang dapat dilipat sehingga lebih mudah disimpan dan dibawa. Jalan Raya Kemang tepatnya di perempatan McDonalds, Bangka, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan ditutup pada Senin (21/6/2021) pukul 21.00 WIB. Aplikasi Saat ini, traffic cone dibuat dari bahan yang lebih kuat dan tahan lama. Beberapa bahkan dilengkapi lampu LED untuk meningkatkan visibilitas pada malam hari. Penggunaannya juga semakin luas, tidak hanya untuk proyek konstruksi jalan, tetapi juga untuk pengaturan lalu lintas di acara tertentu, area parkir, hingga kebutuhan pengaturan arus kendaraan sementara. Dengan desain yang sederhana namun efektif, traffic cone tetap menjadi salah satu perangkat penting dalam menjaga keselamatan dan ketertiban lalu lintas di jalan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang