Mobil bertubuh ringan atau sering disebut “bodi kaleng” kerap dianggap lebih irit karena beban mesin yang relatif kecil. Namun dalam praktiknya, kendaraan jenis ini tidak selalu memberikan konsumsi bahan bakar yang efisien. Ada sejumlah faktor teknis yang justru membuat mobil ringan tetap bisa boros, terutama terkait aerodinamika, rasio gigi transmisi, hingga kalibrasi mesin. Salah satu penyebab terbesar adalah hambatan angin. Pada beberapa model berdimensi kecil, desain bodi lebih mengutamakan ruang kabin dan efisiensi produksi ketimbang aerodinamika. Akibatnya, koefisien drag bisa lebih tinggi dari mobil yang bentuknya ramping. Bentuk bodi yang cenderung tegak atau banyak sudut tajam membuat mesin harus bekerja lebih keras menembus aliran udara ketika melaju di kecepatan tinggi. Dalam kondisi ini, pengaruh drag udara jauh lebih besar dibanding selisih bobot kendaraan. “Sering orang kira bobot ringan otomatis bikin irit, padahal yang paling nguras itu gesekan udara di kecepatan tinggi,” ujar Lung Lung, pemilik bengkel Dokter Mobil, kepada Kompas.com, Sabtu (15/11/2025). Daihatsu Sigra Ia menambahkan, efek bobot lebih terasa pada start–stop dalam kota, sementara di luar kota aerodinamikalah yang paling menentukan. Faktor lain muncul dari karakter transmisi. Pada sebagian mobil kecil, rasio gigi dibuat panjang untuk menjaga putaran mesin tetap rendah demi kenyamanan. Namun dalam beberapa situasi, misalnya saat menanjak atau ketika membawa penumpang penuh, mobil membutuhkan injakan gas lebih dalam untuk berakselerasi, sehingga konsumsi bahan bakar bisa meningkat. Di sisi lain, tuning mesin pada mobil entry-level biasanya dirancang konservatif untuk menjaga durabilitas. Pengaturan campuran udara-bahan bakar (AFR), waktu pengapian, dan respons throttle dibuat aman dan mudah dirawat. Dalam kondisi tertentu, penyetelan semacam ini bisa membuat konsumsi BBM tidak seefisien yang dibayangkan. Menurut Lung Lung, kombinasi faktor tersebut sering kali lebih berpengaruh daripada sekadar berat kendaraan. “Kalau aerodinamikanya kurang bagus, gear ratio-nya enggak pas, dan tuning mesinnya konservatif, ya bisa tetap boros. Ringan itu bukan jaminan,” ucapnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa efisiensi kendaraan tidak bisa diukur dari bobot semata. Desain bodi, karakter transmisi, hingga penyetelan mesin memiliki peran besar terhadap seberapa hemat sebuah mobil digunakan sehari-hari. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.