Pebalap Red Bull KTM, Pedro Acosta, melayangkan kritik keras terhadap keputusan Race Director pada MotoGP Catalunya akhir pekan lalu. Menurut pebalap asal Murcia, Spanyol ini, keputusan untuk melanjutkan balapan hingga melakukan tiga kali restart dinilai sudah berlebihan dan mengabaikan keselamatan para pebalap. Balapan di Sirkuit Barcelona-Catalunya tersebut memang diwarnai drama luar biasa. Acosta yang sedang memimpin jalannya balapan di pertengahan lomba, tiba-tiba mengalami kendala teknis pada motor KTM RC16 miliknya hingga mengalami kecelakaan fatal. Pebalap Spanyol dari tim Red Bull KTM Factory Racing Pedro Acosta beraksi dalam sesi latihan bebas 2 MotoGP Thailand 2026 di Sirkuit Internasional Buriram di Buriram pada 28 Februari 2026. (Foto oleh Lillian SUWANRUMPHA / AFP) Sialnya, Alex Marquez yang berada tepat di belakang Acosta tidak mampu menghindar. Tabrakan hebat pun tak terelakkan, hingga membuat adik Marc Marquez tersebut terlempar dan menghantam pembatas sirkuit dengan keras. Insiden ini langsung memicu berkibarnya red flag. Bukan cuma Alex Marquez, pebalap LCR Honda Johann Zarco juga mengalami kecelakaan parah di sesi yang sama. Keduanya bahkan harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Catalunya untuk mendapatkan perawatan intensif. Melihat kondisi yang sudah tidak kondusif dengan adanya dua kali red flag dan korban cedera, Acosta menilai balapan seharusnya dihentikan demi keselamatan. "Tidak perlu sampai ada tiga kali restart ketika kita sudah mengalami dua kali red flag, saat sudah ada dua pebalap di rumah sakit, dan ketika tiga atau empat pebalap lainnya juga berjatuhan," ujar Acosta dikutip dari GPOne, Selasa (19/5/2026). Acosta menyentil filosofi "the show must go on" yang sering kali diagung-agungkan di dunia balap modern. Menurutnya, aspek hiburan jangan sampai mengorbankan nyawa atau kesehatan para atlet yang berjuang di atas lintasan. "Memang bagus kalau pertunjukan harus tetap berjalan, tapi kita sering lupa kalau kamilah yang membuat pertunjukan itu. Kesehatan seseorang jauh lebih penting daripada tontonan yang bisa kami sajikan," kata pebalap berjuluk The Shark of Mazarron ini. Lebih lanjut, Acosta menceritakan bagaimana frustrasinya dia ketika kembali ke pit setelah red flag pertama. Apalagi, kecelakaan pertamanya murni karena kegagalan mekanis pada motor, bukan karena kesalahannya sendiri. "Ketika hal-hal ini terjadi karena kegagalan mekanis, rasanya jauh lebih buruk. Anda merasa tidak berdaya karena tidak ada lagi yang bisa Anda lakukan, dan itu sangat berat," ucap Acosta. "Pertunjukan itu terasa menyenangkan kalau hal buruk tidak terjadi pada Anda atau orang yang Anda kenal. Saya rasa (melanjutkan balapan) itu tidak perlu. Menurut saya harus ada aturan yang jelas: setelah red flag kedua, kita tidak perlu balapan lagi. Titik," pungkasnya tegas. Meskipun sempat ikut restart dan akhirnya gagal finis akibat bersenggolan dengan Ai Ogura di dua tikungan terakhir jelang finis, fokus utama Acosta pasca-balap tetap tertuju pada masalah keselamatan dan solidaritasnya terhadap Alex Marquez serta Johann Zarco. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang