Insiden mobil patwal polisi yang menyenggol kendaraan pengguna jalan kembali menjadi sorotan publik setelah videonya viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi di ruas Tol Tomang dan melibatkan mobil patwal polisi menggunakan sedan Mazda 6 yang mengawal sebuah Range Rover hitam berpelat dinas. Video itu diunggah akun Instagram @dashcamindonesia pada 13 Januari 2026 dan memicu beragam reaksi dari warganet. Dalam rekaman tersebut, pengendara yang kendaraannya disenggol terlihat turun dari mobil dan mempertanyakan insiden tersebut secara langsung kepada petugas patwal. “Kenapa disenggol mobil saya, kenapa disenggol pak? Disenggol nih,” ucap pengendara itu. Petugas patwal kemudian merespons melalui toa tanpa membuka kaca atau turun dari kendaraan. “Maaf pak, maaf pak. Nanti di depan ya pak, di depan,” ucap petugas dari dalam mobil. Saat dikonfirmasi, Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Pol Komarudin menjelaskan bahwa berdasarkan pelat nomor kendaraan, mobil patwal tersebut bukan milik Polda Metro Jaya. Tangkapan layar video yang memperlihatkan mobil patroli dan pengawalan (patwal) menabrak pengendara motor lalu pergi begitu saja. “Nomor serinya punya korlantas,” ujar Komarudin kepada Kompas.com, Rabu (14/1/2026). Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Pol Faizal belum memberikan tanggapan terkait insiden tersebut meski telah coba dihubungi. Menanggapi kejadian tersebut, Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menilai insiden patwal menyenggol atau menabrak pengguna jalan lain sebenarnya sudah beberapa kali terjadi. Gerbang Tol Tomang di ruas Jalan Tol Dalam Kota “Tapi yang menarik dari kasus ini, pelaku tidak mau turun, tidak mau membuka kaca, hanya berbicara lewat toa atau mikrofon. Ini jarang terjadi dan mungkin itu sebabnya kasus ini menjadi viral. Di situ terlihat secara psikologis ada kesalahan yang tidak mau diakui,” ujar Jusri, kepada Kompas.com (14/1/2026). Menurut Jusri, idealnya polisi tersebut turun langsung dan meminta maaf kepada masyarakat. Walaupun, dirinya juga mengakui, polisi tersebut sudah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka lewat mikrofon. “Itu sebenarnya sudah cukup baik. Jarang sekali aparat mau minta maaf secara eksplisit seperti itu. Bagaimanapun, menurut saya, kasus seperti ini harus menjadi lesson learned bagi dua pihak sekaligus, yaitu petugas dan masyarakat,” ucap Jusri. Pemasangan lampu strobo oleh Ilham, pemilik Sumber58 Spesialis Sirine Rotator Semarang. Dalam konteks safety driving, Jusri menekankan bahwa pengendara juga memiliki peran penting dalam mencegah insiden memburuk. Ia menjelaskan bahwa ketika mendengar sirene, banyak pengguna jalan yang langsung panik dan kehilangan kendali logika. Karena itu, sikap paling tepat bagi pengendara saat mengalami situasi seperti ini adalah tetap tenang, menjaga lajur, dan tidak melakukan manuver mendadak yang justru meningkatkan risiko kecelakaan. Ilustrasi lampu strobo “Lesson learned yang paling penting, khususnya bagi petugas patwal, adalah mereka harus kembali tenang dan menyusun strategi, terutama saat menghadapi jam sibuk atau rute padat,” kata Jusri. “Mereka harus benar-benar paham bahwa dalam SOP, prioritas utama adalah keselamatan masyarakat, bukan rombongan yang dikawal,” ujarnya. Pandangan serupa disampaikan Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana. Ia menilai bahwa dari video yang beredar, besar kemungkinan petugas patwal kurang fokus dan tidak sabar, terutama dalam kondisi lalu lintas padat. Kondisi lalu lintas di Jalan Medan Merdeka Barat yang berada di dekat perempatan patung kuda beberapa menit sebelum rombongan kenegaraan dari Yordania dan Indonesia melintas pada Jumat (14/11/2025). “Memang strobo dan sirene sudah dibekukan sementara, jadi enggak ada lagi tuh Patwal-patwalan. Jika mengacu kepada video, besar kemungkinan polisinya enggak fokus dan kurang sabar. Ya namanya macet, buka jalan tetap ada etikanya,” ucap Sony, kepada Kompas.com (14/1/2026). “Pengawalan tidak seruntulan, tetap harus menjaga jarak aman. Dua tangan pengemudi tetap pegang setir, enggak sambil pegang HT. Distraksi sering muncul dari yang dikawal karena diburu-buru,” ujarnya. Terkait anggapan bahwa petugas patwal “kabur” setelah insiden, Sony menilai istilah tersebut tidak selalu tepat. Pengawalan Polda Bengkulu mengawal 100 unit ambulans ke tiga wilayah banjir di Sumatera. (Dol, tribratanews). “Mungkin mereka ada kepentingan yang lebih, sehingga harus buru-buru. Memang sebaiknya ada komunikasi dulu antara polisinya dengan korban sehingga terlihat bertanggung jawab. Jika tidak dilakukan justru akan menimbulkan preseden buruk terhadap wajah Polri,” kata Sony. Meski demikian, bagi pengendara, adu emosi di jalan bukanlah solusi dan justru berpotensi membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lain. Dalam situasi adanya kendaraan prioritas, Sony juga mengingatkan agar pengendara tidak ragu memberikan jalan dengan cara yang aman. Tampilan interior Kia Carens 1.5 “Buat para pengendara jangan tunggu-tungguan. Segera minggir untuk buka jalur (saat ada rombongan prioritas),” ujar dia. Insiden di Tol Tomang ini menjadi pengingat bahwa sikap tenang, kewaspadaan, dan etika berkendara sesuai prinsip safety driving adalah kunci utama, baik saat berhadapan dengan kendaraan prioritas maupun ketika terjadi insiden tak terduga di jalan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang