Pasar otomotif Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami pergeseran minat konsumen. Jika sebelumnya mobil hatchback cukup diminati, kini tren beralih ke segmen SUV. Perubahan selera tersebut menjadi salah satu alasan PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menghadirkan Suzuki Fronx ke pasar Indonesia. Suzuki Baleno Hatchback Saat ini, konsumen dinilai semakin menyukai SUV, termasuk SUV ringkas. Deputy Managing Director Sales and Marketing 4W PT SIS Dony Ismi Himawan Saputra mengatakan, keputusan tersebut diambil berdasarkan perkembangan tren di pasar. "Kita lihat saat ini ada pergeseran tren dari hatchback ke arah SUV. Itulah kenapa secara portofolio kami lebih memilih Fronx, dibandingkan model-model hatchback yang saat ini ada ranah produk Suzuki," kata Dony di JIExpo, Jumat (13/2/2026). Indonesia jadi basis ekspor Suzuki Fronx dan Satria Secara umum, SUV dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen Indonesia. Postur mobil dan ground clearance yang tinggi dinilai lebih aman saat melintasi jalan tidak rata atau genangan air. Desain SUV yang gagah dan modern turut menjadi daya tarik, terutama bagi konsumen muda dan keluarga muda. Modifikasi Suzuki Swift Tanggapan Dony Ismi Himawan Saputra Meski demikian, Dony enggan menyebut kehadiran Fronx sebagai alasan langsung dihentikannya penjualan hatchback tertentu. Ia menegaskan bahwa perubahan portofolio tidak hanya terkait satu model saja. Walaupun demikian, hilangnya Baleno dari daftar produk Suzuki memang terjadi tidak lama setelah kemunculan Fronx pada pertengahan 2025. "Saya tidak ngomong modelnya apa, kan tidak hanya Baleno saja ya, ada macam-macam, Celerio sebelumnya, Swift termasuk di dalamnya," ujar Dony. Suzuki pun tidak menutup peluang menghadirkan kembali hatchback di masa depan. Menurut Dony, minat terhadap suatu model pada dasarnya mengikuti tren yang dinamis layaknya dunia fesyen. "Tentunya tapi tidak menutup kemungkinan bicara tren itu seperti fashion, celana ketat celana gombrong, celana ketat lagi, gombrong dan baggy, tapi dalam 15 atau 10 tahun ke depan preferensi bisa berubah," ujarnya. "Ya tidak tidak menutup kemungkinan kalau ada perubahan preferensi di Indonesia tentu kami akan pertimbangan sesuai kebutuhan pasar," kata Dony. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang