Hampir sama dengan para rivalnya yang bermain di segmen SUV PHEV, DFSK E5 Plus juga dilengkapi beberapa pilihan mode berkendara, termasuk mode kendaraan. Perlu diingat, mode berkendara dan mode kendaraan memiliki fungsi yang berbeda. Karena itu, pemilik atau pengendara DFSK E5 Plus perlu memahami kegunaan masing-masing fitur tersebut. Difi Driyana, Product Expert PT Sokonindo Automobile mengatakan, mode berkendara lebih berkaitan dengan karakter kendaraan yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Sementara mode kendaraan pada mobil PHEV menyasar aspek teknis, yakni menentukan sumber tenaga yang digunakan. Mode Kendaraan DFSK E5 Plus "Mode berkendara itu ada Sport, Eco, Nyaman, dan Salju. Pengendara tinggal memilih mana yang akan digunakan dengan menyesuaikan kondisi jalan yang dilewati. Kalau mode kendaraan pada E5 Plus, fungsinya menentukan tenaga mana yang ingin diterapkan saat berkendara, apakah hybrid atau listrik murni, dan lainnya," ujar Difi di Nusa Dua, Bali, Kamis (24/9/2026). Mode Kendaraan Secara pilihan, DFSK E5 Plus memiliki lima mode kendaraan, yakni listrik murni, utamakan listrik, cerdas, utamakan bahan bakar, dan isi daya paksa. Menurut Difi, masing-masing mode tersebut memiliki fungsi berbeda yang membuat sistem bekerja sesuai pilihan pengendara. "Bahas yang Force EV (mode paksa) dulu. Jadi, kalau Force EV itu mode pengendaraan di mana mobil akan dipaksa menggunakan baterai sepenuhnya sampai kapasitas baterainya berada di bawah batas minimum," katanya. Saat kapasitas baterai mencapai 15 persen, lanjut Difi, akan muncul peringatan karena daya baterai sudah rendah. Meski demikian, penggunaan mode tersebut masih dapat dipaksakan hingga kapasitas baterai mencapai 10 persen. Setelah itu, mesin bensin akan mulai bekerja. DFSK E5 Plus Menurutnya, meski mesin bensin berkapasitas 1.500 cc pada E5 Plus mulai bekerja ketika baterai menipis, perpindahan tersebut tetap berlangsung halus. Putaran mesin tidak serta-merta meraung akibat kenaikan RPM. "Tapi ada konsekuensinya. Kalau misalnya kita tetap paksa di mode Force EV dengan kondisi baterai yang rendah, tenaganya akan dibatasi. Artinya, kendaraan tidak sekuat saat kita menggunakan mode Smart dengan kondisi baterai yang rendah," ujarnya. Penggunaan Force EV diklaim lebih ditujukan bagi pengguna yang ingin memaksimalkan pemanfaatan energi baterai untuk berkendara. Selanjutnya, mode utamakan listrik membuat sistem memprioritaskan penggunaan tenaga dari baterai. Namun, ketika kapasitas baterai rendah, misalnya sekitar 25 persen, sistem akan mulai melakukan pengisian daya secara internal dengan memanfaatkan mesin bensin. Meski demikian, Difi menjelaskan gaya berkendara juga berperan dalam memengaruhi kapan mesin bensin mulai bekerja untuk memasok tenaga sekaligus mengisi baterai. Ilustrasi persentase baterai DFSK E5 Plus "Kalau kita mempertahankan kecepatan 60 atau 90 km per jam, RPM mesin akan rendah sehingga hampir tidak terasa. Namun, ketika kondisi baterai di bawah 20 persen dan pengendara membutuhkan tenaga besar, otomatis mesin akan mengimbangi kebutuhan tenaga dengan menaikkan RPM. Artinya, mesin akan menggerakkan roda dan melakukan pengisian ke baterai, jadi fungsinya seperti generator," ujar Difi. Sementara itu, bagi pengendara yang menginginkan pengelolaan tenaga lebih fleksibel, mode Cerdas atau Smart dapat menjadi pilihan. Melalui mode ini, sistem akan bekerja secara otomatis untuk menentukan pengoperasian sumber tenaga yang sesuai dengan kebutuhan rute dan gaya berkendara. DFSK E5 Plus Jakarta-Bali Lantas, apakah kapasitas baterai DFSK E5 Plus bisa benar-benar habis hingga nol persen? Menjawab hal ini, Difi menjelaskan, kondisi tersebut bisa saja terjadi apabila bahan bakar bensin sudah lebih dahulu habis. "Karena untuk keselamatan, baterai akan dipertahankan pada level tertentu. Jadi, bensin dulu yang habis, baru baterainya. Namun, kondisi tersebut sangat tidak direkomendasikan karena mesin biasanya akan mulai bekerja ketika kapasitas baterai sudah 10 persen," katanya. Ia menambahkan, penggunaan kendaraan hingga kondisi tersebut tidak disarankan karena dapat memengaruhi kesehatan baterai. Mode Berkendara Mode berkendara DFSK E5 Plus Lebih lanjut, Difi mengatakan, mode berkendara lebih berkaitan dengan karakter respons kendaraan yang diinginkan atau dibutuhakn pengemudi. Pengendara dapat memilih mode Eco untuk berkendara lebih santai dengan mengutamakan efisiensi, atau Sport ketika membutuhkan akselerasi yang lebih responsif. "Mode berkendara ini lebih ke output tenaga. Untuk mode Sport, akan terasa lebih responsif ketika pedal gas ditekan dibandingkan mode Normal atau Eco," ucap Difi. "Sementara yang Eco, akan menahan tenaga saat pedal gas ditekan secara berlebih untuk menjaga efisiensi. Untuk mode Normal dibuat standar atau tidak ditahan, dan yang Sport justru ditambah agar responsif," ucap Difi. Kesimpulan Sayangnya, meski sudah cukup lengkap, pengoperasian mode berkendara pada DFSK E5 Plus tetap harus dilakukan melalui layar LCD berukuran 15,6 inci. Tidak ada tombol fisik yang disediakan untuk mengakses fitur tersebut secara langsung. Ilustrasi mengaktifkan fitur dari head unit DFSK E5 Plus Kondisi ini sedikit merepotkan saat berkendara. Opsi yang lebih fleksibel adalah mengaktifkan mode berkendara melalui perintah suara atau voice command.