Mobil listrik sudah banyak dijumpai di Tanah Air. Sebagian orang mulai mencoba dan menggunakannya untuk mobilitas harian. Selain lebih ramah lingkungan karena tak lagi menghasilkan emisi karbon. Mobil listrik juga memberikan sejumlah keuntungan bagi para penggunanya. Rasyid, Sales Consultant Chery Solo mengatakan ada banyak keuntungan yang bisa dirasakan pengguna mobil listrik, terlepas dari biaya kepemilikan awal yang lebih besar daripada mobil konvensional (ICE). “Pertama terkait biaya operasional hariannya, karena harga listrik per KWh-nya untuk saat ini, yang paling mahal itu Rp 2.700 per KWh, kalau Pertamax kan per liternya sekarang Rp 12.200 atau Pertalite Rp 10.000,” ucap Rasyid kepada KOMPAS.com, Sabtu (6/12/2025). Dengan 1 KWh, menurut Rasyid, mobil listrik secara umum bisa menempuh jarak 7 kilometer. Dengan perbandingan harga Rp 2.700 dan bensin 1 liter Rp 10.000, maka rasionya 1:4. “Secara hitung-hitungan, dengan uang Rp 10.000, mobil listrik bisa menempuh jarak sampai 28 Km, ini hanya gambaran umumnya saja, padahal konsumsi listrik pada mobil listrik bervariasi tergantung modelnya,” ucap Rasyid. Mobil listrik Rp 200 jutaan di GJAW 2025 Angka tersebut tentu akan membuat biaya operasional mobil listrik lebih murah bila dibandingkan dengan mobil konvensional (ICE) pada segmen low cost green car (LCGC) sekali pun. Selain itu, pajak tahunan mobil listrik relatif lebih murah daripada mobil bensin atau diesel. Pasalnya, pemerintah memang memberlakukan tarif khusus penetapan PKB untuk mobil listrik, yakni sebesar 0,1 persen dari NJKB. “Sekitar Rp 150.000-an per tahun untuk pajak mobil listrik tiap tahunnya, sedangkan mobil ICE pajak bisa sampai jutaan rupiah,” ucap Rasyid. Mobil listrik juga minim perawatan, karena tak lagi menggunakan mesin bakar seperti pada mobil ICE. Sehingga tak perlu ganti oli mesin, busi, drive belt, filter udara dan sebagainya secara rutin. “Perawatannya hanya ganti oli gear reduction dan coolant, itu selama 5 tahun masih gratis, setelah itu meski berbayar pun paling mahal hanya Rp 300.000-an, beda jauh dengan mobil ICE,” ucap Rasyid. Dari segi performa, mobil listrik juga lebih responsif dan bertenaga karena memiliki torsi instan. Sehingga, cenderung lebih enak untuk bermanuver. “Ada juga kebijakan dari pemerintah soal bebas ganjil-genap untuk mobil listrik, sehingga bisa dengan bebas digunakan setiap hari seperti di Jakarta dan kota-kota besar lainnya,” ucap Rasyid. Brian Gomgom, Brand Communication Senior Manager Wuling Motors, mengatakan ada beberapa faktor yang membuat mobil listrik tetap menarik di mata masyarakat, yakni soal manfaatnya. "Pertama adalah kebutuhan mobilitas dan juga adanya beberapa batasan-batasan yang hanya bisa dinikmati oleh EV," ucap Brian mengutip dari KOMPAS.com, Sabtu (6/12/2025). Wuling di GJAW 2025 Biaya operasional mobil listrik tetap menarik konsumen, meski tanpa insentif. Pasalnya, 1 kWh daya listrik jauh lebih terjangkau dibandingkan 1 liter bensin. Selain itu, menurut Brian, bebas ganjil genap, khusus bagi mereka yang beraktivitas di Jakarta juga menjadi kebutuhan utama. Sehingga, mobil listrik tetap akan menjadi pilihan. Biaya perawatan yang jauh lebih terjangkau dibandingkan mobil konvensional, menurut Brian, menjadi bukti nyata bahwa mobil listrik lebih menguntungkan. "Jadi, ada beberapa sudut pandang yang menjadikan mobil listrik memiliki nilai lebih, khususnya terkait manfaat yang dirasakan oleh konsumen,” ucap Brian. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang