Pecah ban di jalan menjadi masalah yang merepotkan bagi pengguna mobil. Pasalnya, kondisi tersebut bisa menimbulkan risiko yang cukup fatal. Tak sedikit yang menyangkutpautkan masalah pecah ban dengan kualitas produk. Padahal, ada hal mendasar yang kerap menjadi penyebabnya namun sering disepelekan, yakni minimnya perawatan dari pemilik mobil. Soal perawatan ban, hal paling utama adalah memastikan tekanan udara. Meski terkesan sepele, faktor ini kerap menjadi pemicu utama terjadinya pecah ban. Menurut Aries Budiarto, Technical Leader Aftersales Auto2000, menjaga tekanan udara sesuai rekomendasi merupakan perawatan sederhana yang sangat krusial untuk dilakukan. Pecah ban dapat terjadi salah satunya disebabkan oleh muatan berlebihan. “Tekanan udara ban yang kurang merupakan pemicu utama pecah ban, kejadian sangat berbahaya yang dapat memicu kecelakaan di jalan. Pasalnya, ban merupakan salah satu komponen penting yang membutuhkan perawatan secara berkala,” kata Aries dalam keterangan resminya, Sabtu (17/1/2026). Lebih lanjut dijelaskan, tekanan udara ban yang tepat mampu menjaga bidang kontak telapak ban tetap optimal sehingga daya cengkeram ke permukaan jalan selalu maksimal. Selain itu, tekanan udara yang sesuai juga membantu dinding ban menopang berat mobil serta meredam gaya akibat gerakan ban, sekaligus menjaga performa ban saat berkendara. Dampak Ban Kempis Perlu diketahui, ban yang kempis atau kurang tekanan udara dapat sangat merugikan pengguna mobil, baik dalam jangka pendek maupun panjang. 1. Area Kontak Ban Berlebih dan Tidak Merata Saat kempis, ban tidak memiliki area kontak dengan aspal (contact patch) yang ideal. Bahkan, beban cenderung bertumpu di pinggir telapak ban. Pentingnya menyesuaikan tekanan ban pada jenis dan beban kendaraan. Kondisi ini menyebabkan keausan di sisi luar dan dalam ban serta membuat pengendalian mobil semakin sulit karena daya cengkeram menjadi tidak seimbang. 2. Dinding Ban Bergerak Berlebihan Gerakan naik-turun dinding ban menjadi berlebihan ketika tekanan udara kurang. Kenyamanan berkendara pun menurun akibat goyangan yang tidak wajar. Pada kondisi ini, pengemudi seharusnya sudah menyadari bahwa ban mobilnya kempis. Gerakan berlebih juga terasa saat akselerasi, pengereman, maupun berbelok. Akibatnya, pengendalian mobil menjadi lebih sulit dan kendaraan cenderung menarik ke sisi ban yang kempis. 3. Ban Lepas atau Pecah Jika dibiarkan, ban menjadi terlalu lentur hingga merusak anyaman kawat baja pada dinding ban. Dalam kondisi ekstrem, tekanan udara yang sangat rendah dapat menyebabkan ban terlepas dari pelek. Sebuah mobil mewah, Porsche mengalami rusak parah setelah menabrak guardrail di Tol Pasuruan-Probolinggo, Minggu (16/11/2025). Risiko paling berbahaya adalah ban pecah akibat bibir pelek menyentuh dan menyayat dinding ban saat defleksi. Situasi ini umumnya terjadi ketika mobil membawa muatan penuh, menempuh perjalanan jauh, dan tekanan udara ban terlalu rendah. Seiring waktu, sayatan tersebut membentuk pola melingkar hingga akhirnya ban pecah karena anyaman kawat baja telah rusak. Pencegahan 1. Jaga Tekanan Udara Tekanan udara ban yang sesuai rekomendasi dapat dilihat pada stiker di pilar B sisi pengemudi atau buku petunjuk pemilik kendaraan. Di sana tercantum tabel tekanan udara untuk berbagai kondisi, seperti muatan kosong atau penuh. Lakukan pemeriksaan tekanan ban pada pagi hari saat ban belum digunakan dan suhu masih dingin agar hasilnya akurat. Jika tidak memungkinkan, usahakan minimal satu minggu sekali. Alternatif lain adalah memasang tire pressure monitor system (TPMS) agar tekanan ban dapat dipantau tanpa harus berkeliling mobil. 2. Periksa Kondisi Fisik Ban Saat mengecek tekanan udara, perhatikan juga kondisi fisik ban. Pastikan ketebalan telapak ban tidak melewati batas Tire Wear Indicator (TWI), tidak terdapat benjol atau sobekan di dinding dan telapak ban, serta tutup pentil terpasang dengan baik. 3. Terapkan Gaya Mengemudi Aman Berkendara agresif, seperti akselerasi berlebihan atau pengereman mendadak, dapat mempercepat kerusakan ban. Begitu pula menerjang lubang atau polisi tidur dengan kecepatan tinggi. Cek kondisi ban mobil Sebaliknya, gaya mengemudi yang halus tidak hanya menjaga keselamatan, tetapi juga memperpanjang usia ban. 4. Ganti Ban Sesuai Spesifikasi Dengan alasan harga lebih terjangkau atau sekadar ingin tampil beda, sebagian pemilik mobil mengganti ban dengan spesifikasi yang berbeda dari standar pabrikan. Padahal, spesifikasi ban sudah disesuaikan dengan karakter dan bobot kendaraan. Mobil memang masih bisa digunakan, namun kenyamanan dan keamanan umumnya menurun. Bahkan, beban kerja yang tidak sesuai kemampuan ban dapat berujung pada risiko kerusakan serius. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang