JAKARTA, KOMPAS.com — Sekolah mengemudi tidak hanya berperan mengajarkan cara mengendalikan kendaraan, tetapi juga membentuk pola pikir dan kesadaran pengemudi dalam berlalu lintas. Peran sekolah mengemudi dinilai penting untuk menciptakan perilaku berkendara yang aman, tertib, dan berempati di jalan. Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu, mengatakan selama ini kemampuan mengemudi banyak terbentuk dari kebiasaan yang diwariskan, bukan dari pemahaman kompetensi yang benar. Bocah menyetir mobil pameran hingga berujung tabrak tembok mal di Mal Of Indonesia (MOI) pada Senin, (22/4/2024). "Selama ini kemampuan mengemudi banyak dibangun dari kebiasaan, bukan kompetensi. Ketika melihat rambu, dia harus paham kenapa rambu itu ada," kata Jusri kepada Kompas.com, Senin (5/1/2026). "Misalnya batas kecepatan dalam kota 50 km/jam. Tapi saat kondisi ramai atau banyak sekolah, seharusnya dia sadar bahwa 50 km/jam masih terlalu cepat, karena rambu dibuat untuk kondisi ideal. Kalau salah satu faktornya berubah, maka perilaku berkendara juga harus menyesuaikan," ujarnya. "Jadi sekolah mengemudi harus benar-benar membangun kesadaran itu,” kata Jusri. Menurut Jusri, pemahaman semacam ini jarang didapatkan jika pengemudi hanya belajar dari pengalaman sehari-hari tanpa arahan yang benar. Padahal, lalu lintas bersifat dinamis dan menuntut pengambilan keputusan yang tepat sesuai situasi di lapangan. Sejumlah kendaraan melintas di Jalur Puncak, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (28/12/2025). Petugas gabungan memetakan sejumlah titik rawan macet pada momen libur Nataru di kawasan wisata ini. Ia menekankan, sekolah mengemudi seharusnya tidak berhenti pada aspek teknis, seperti menginjak pedal gas atau memutar kemudi. Lebih dari itu, lembaga pendidikan mengemudi harus mampu menanamkan mindset dan membentuk perilaku pengemudi. "Sekolah mengemudi harus bisa membangkitkan kesadaran, mindset, dan membentuk perilaku. Makanya empati itu penting," kata Jusri. "Contohnya, ketika melihat ambulans, orang langsung memberi jalan seperti di luar negeri, meskipun tidak ada polisi yang menyuruh berhenti. Ketertiban akan melahirkan kenyamanan, tidak ada konflik, tidak ada friksi,” ujarnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang