Beragam komponen aftermarket ditawarkan dengan klaim bisa membantu menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Mulai dari perangkat kelistrikan, aditif, perangkat yang dipasang pada saluran udara, hingga berbagai produk yang diklaim dapat membantu pembakaran mesin. Namun, sebelum memasang perangkat tambahan tersebut, pemilik mobil sebaiknya lebih dulu memastikan kondisi kendaraan. Hal ini terutama penting pada mobil yang sudah cukup berumur atau memiliki komponen yang mulai mengalami keausan. Arif dari Sinar Raya Motor, Bursa Otomotif Bintaro, Tangerang Selatan, yang pernah lama menjadi mekanik di bengkel resmi pabrikan Jepang, mengatakan kondisi komponen kendaraan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi konsumsi BBM. Kondisi Mesin Menurut Arif, klaim mengenai perangkat penghemat BBM juga perlu dilihat berdasarkan kondisi kendaraan yang menggunakannya. Magnet yang dipasang di mesin mobil. Ia mengatakan, pada mobil dengan kondisi mesin dan komponennya masih baik, perangkat tertentu mungkin saja dirasakan membantu berdasarkan pengalaman pengguna. Namun, hasilnya belum tentu sama pada kendaraan yang kondisinya sudah menurun. "Baik lagi sih, baik lagi. Bicara testimoni, ada bilang, oh, agak meringankan gitu, kan. Tapi mungkin masing-masing mobil kan berbeda kondisi mesinnya," kata Arif kepada Kompas.com, akhir pekan lalu. "Dalam kondisi mesin maksimal, artinya komponen-komponen bagus, mungkin itu membantu. Tapi kalau misalkan dalam kondisi mobil yang memang banyak keausan, tidak banyak membantu," ujarnya. "Kalau bagi saya sih, poinnya adalah memang dari berbagai testimoni," katanya. Karena itu, menurut dia, pemeriksaan kondisi kendaraan sebaiknya menjadi langkah awal sebelum pemilik mobil mencoba berbagai produk aftermarket. Ilustrasi etanol. Terlebih pada mobil yang sudah berumur, penurunan kondisi komponen dapat membuat konsumsi BBM berubah. Artinya, persoalan boros tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan memasang perangkat tambahan. Uji Konsumsi BBM Arif juga menceritakan pengalamannya ketika menangani keluhan konsumen mengenai mobil yang dianggap boros BBM. Saat itu, ia melakukan pengujian menggunakan bejana berisi satu liter bensin. Pengujian dilakukan dalam beberapa kondisi jalan, mulai dari jalan raya yang macet hingga jalan tol dalam kondisi lancar dan macet. "Nah, kalau dulu, waktu zamannya mobil Feroza, waktu itu keluhannya boros. Akhirnya kita lakukan, kita lakukan tes, kita tes pakai tester bejana bensin, 1 liter," katanya. Octane Booster "Tesnya jalan raya biasa, jalan raya macet, masuk tol, lancar, dan tol macet. Hasilnya adalah 1,13," ujar Arif. Pengujian tersebut menurut menghasilkan angka sekitar 1:13. Ia kemudian mengaitkan pengamatannya dengan pembacaan indikator BBM pada kendaraan. Cek Indikator BBM Selain kondisi mesin, Arif mengingatkan bahwa indikator BBM di panel instrumen tidak selalu bisa dijadikan patokan tunggal untuk mengetahui konsumsi bahan bakar. Menurut dia, pembacaan indikator dapat berubah setelah mobil digunakan atau setelah kendaraan berhenti dalam waktu tertentu. "Hanya, kadang-kadang mungkin, ya meter bensin itu menurut saya memang akurasinya juga tidak pas," katanya. Indikator bensin "Contoh, mobil terakhir saya ngisi bensin, misalkan di dua bar. Dimatiin sebentar, tidak lama, dia sudah turun. Jadi, akurasi dari apa namanya, pelampung sendiri ini mungkin sudah berubah," ujarnya. Dengan demikian, perubahan posisi jarum atau indikator BBM tidak serta-merta menunjukkan bahwa konsumsi BBM kendaraan langsung berubah secara signifikan. Untuk mengetahui konsumsi secara lebih akurat, pemilik mobil dapat melakukan pengukuran berdasarkan jumlah BBM yang digunakan dan jarak tempuh. "Terkadang, yang saya bilang tadi, mungkin antara pembacaan pelampung itu yang saya pantau, yang saya amati," kata Arif. "Contohnya kayak tadi, saya ngisi bensin sebentar, berhenti, enggak lama berhenti, keluar, berhenti, kok sudah turun. Seperti itu kan asumsinya," ujarnya.