Beragam produk aftermarket ditawarkan dengan klaim dapat membuat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) mobil lebih irit. Mulai dari octane booster, magnet, voltage stabilizer, perangkat nano, hingga piggyback, masing-masing memiliki cara kerja dan klaim yang berbeda. Namun, tidak semua klaim tersebut bisa digeneralisasi untuk setiap kendaraan. Pengaruh perangkat tambahan sangat bergantung pada jenis mobil, kondisi mesin, sistem kelistrikan, jenis BBM, hingga penyetelan yang digunakan. Lantas, seberapa efektif perangkat tersebut dalam menghemat BBM? Sejumlah mekanik dan tuner memberikan pandangan berbeda, sekaligus mengingatkan bahwa kondisi kendaraan dan gaya berkendara tetap menjadi faktor penting dalam menentukan konsumsi BBM. Octane Booster 1. Octane Booster Octane booster merupakan aditif bensin yang berfungsi meningkatkan ketahanan BBM terhadap knocking. Namun, penggunaannya tidak otomatis membuat konsumsi BBM lebih irit. Taqwa Suryo Swasono, pemilik Garden Speed, Cilandak, Jakarta Selatan, mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. "Secara umum, ada tiga hal yang mesti diperhatikan dari octane booster," kata Taqwa kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2026). "Pertama, seberapa besar kenaikan oktannya. Kedua, octane booster juga ada dua macam. Ada yang memang murni sebagai octane booster, ada juga yang sekaligus berfungsi sebagai cleaning agent," katanya. Hasilnya juga tidak bisa disamakan untuk semua kendaraan. "Jadi kesimpulannya, tidak bisa satu hasil pengujian yang positif kemudian digeneralisasi untuk mobil lainnya," kata Taqwa. "Sebaliknya, hasil yang tidak bagus pada satu mobil juga belum tentu berarti tidak bagus ketika digunakan pada mobil lain," ujarnya. Ilustrasi pemasangan magnet di mobil. 2. Magnet Penghemat BBM Magnet pada saluran BBM kerap dipasarkan sebagai fuel saver atau fuel catalyst dengan klaim dapat membuat pembakaran lebih sempurna. Namun, klaim tersebut dipertanyakan Kamal, pemilik Bengkel Kafka di Bogor. "Kalau magnet yang seperti itu macam-macam kan jenisnya ya. Kalau menurut saya, non sense," katanya kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2026). Thayne Finsenda Lika alias Ko Lung-Lung juga mempertanyakan klaim tersebut. “Ini juga tidak bisa, karena BBM tidak terpengaruh magnet. Kata ‘katalis’ itu berarti ada sesuatu yang tercampur atau tertinggal. Jadi, istilah tersebut tidak sesuai dengan kenyataannya,” ujarnya. Magnet yang dipasang di mesin mobil. Sementara itu, Foreman Nissan Bintaro Ibrohim memiliki pandangan berbeda untuk mobil yang masih pakai pengabutan karburator. “Untuk karburator cukup efektif, karena bensin ngumpul di ruang pelampung sehingga molekul-molekulnya bisa lebih padat, nah magnet ini berfungsi untuk mengurai sehingga pengabutan di karburator menjadi lebih sempurna,” ucap Ibrohim.