Mobil plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) memang dapat beroperasi menggunakan tenaga listrik sepenuhnya dalam kondisi tertentu. Namun, bukan berarti mesin bensinnya bisa terus-menerus dibiarkan tidak bekerja dalam waktu lama. Pengguna PHEV tetap disarankan untuk sesekali menghidupkan mesin pembakaran internal agar seluruh komponen pendukung tetap bekerja optimal. Langkah ini juga dinilai penting untuk menjaga kualitas bahan bakar dan pelumas yang ada di dalam sistem. Mesin Tidak Boleh Terlalu Lama Tidak Aktif Fatur Farhananda, Product Training Expert PT Jetour Sales Indonesia, mengatakan, dari sisi teknis mobil tidak disarankan terlalu lama hanya digunakan dalam mode listrik. Mesin bensin tetap perlu dioperasikan secara berkala. Ilustrasi Jetour T1 ICE "Enggak boleh terus-terusan kita menggunakan EV dalam waktu yang lama, dalam waktu yang 2 minggu hingga 3 minggu, itu enggak direkomendasikan sebenarnya," ujar Fatur, kepada wartawan, saat ditemui di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, di ICE BSD, belum lama ini. Cara Mengaktifkan Mesin pada PHEV Menurut Fatur, cara paling mudah untuk memaksa mesin menyala adalah dengan mengatur target state of charge (SOC) baterai lebih tinggi daripada kapasitas baterai yang tersedia saat itu. "Jadi, kita perlu sesekali tuh mesinnya nyala. Cara kita menyalakan mesinnya adalah tadi kita bisa atur SOC-nya lebih tinggi dibandingkan baterai yang ada," kata Fatur. Jetour T2 i-DM Sebagai contoh, apabila kapasitas baterai berada di level 50 persen, maka target SOC dapat diatur menjadi 70 persen. Dengan demikian, sistem akan mengaktifkan mesin bensin untuk mengisi ulang baterai sekaligus menjalankan sirkulasi seluruh fluida di dalam kendaraan. "Jadi, baterai kita 50 persen nih, maka kita setting SOC-nya 70 persen biar mesinnya nyala dan semuanya tersirkulasi tuh dari bensinnya, olinya, jadi semuanya tersirkulasi akhirnya," ujar Fatur. Impresi awal Jetour T1 i-DM Mencegah Penurunan Kualitas Bahan Bakar Selain menjaga sirkulasi oli, langkah tersebut juga membantu mencegah bahan bakar mengendap terlalu lama di dalam tangki yang berpotensi mengalami penurunan kualitas akibat proses oksidasi. "Dengan begitu, nanti bensin-bensin yang tadi mungkin akan menjadi potensi oksidasi, akhirnya nggak terjadi, karena dia ada perputaran di situ," kata Fatur.