Ribuan unit mobil listrik Xiaomi YU7 Langkah ini terjadi karena penjualan mobil listrik di China mulai melambat. Pasarnya sudah sangat besar, tapi pertumbuhannya tak sekencang beberapa tahun lalu. Akibatnya, pabrikan terpaksa banting harga demi menjaga penjualan dan kelangsungan bisnis. Tak cuma itu, BMW juga menurunkan harga beberapa mobil listrik lainnya serta mobil bermesin bensin dengan potongan minimal 10 persen. Potongan seperti ini tergolong tidak biasa, terutama untuk merek premium.Selain BMW, Xiaomi juga ikut memanaskan persaingan. Perusahaan yang dikenal sebagai produsen smartphone ini menawarkan promo menarik untuk SUV listrik perdananya, Xiaomi YU7. Konsumen bisa menikmati cicilan 0 persen hingga tiga tahun dalam program promo terbatas. Pendiri Xiaomi, Lei Jun, mengungkapkan bahwa sejak diluncurkan pada Juni 2025, lebih dari 150 ribu unit Xiaomi YU7 sudah dikirim ke konsumen. Angka ini terbilang tinggi untuk model mobil listrik pertama dari sebuah perusahaan teknologi. Menurut analis otomotif dari AlixPartners, Zhang Yichao, kondisi ini sebenarnya sudah bisa diprediksi. Ia menilai perang harga mobil listrik di China masih akan berlangsung satu sampai dua tahun ke depan. Penyebabnya, tingkat penggunaan mobil listrik memang tinggi, tapi laju pertumbuhan penjualannya mulai melambat. Data Asosiasi Mobil Penumpang China mencatat, mobil energi baru termasuk mobil listrik murni dan hybrid menguasai 59,3 persen penjualan mobil penumpang pada November 2025. Angka tersebut naik dibanding tahun sebelumnya, namun kenaikannya tidak sebesar tahun 2024.Bagi konsumen, situasi ini jelas menguntungkan karena harga mobil listrik jadi makin terjangkau dan pilihannya semakin banyak. Namun bagi pabrikan, perang harga seperti ini bisa menjadi pedang bermata dua karena keuntungan semakin tertekan.Melihat kondisi saat ini, diskon besar dan cicilan ringan tampaknya masih akan terus menjadi senjata utama pabrikan mobil listrik di China dalam waktu dekat.