Beragam perangkat aftermarket ditawarkan dengan klaim dapat membantu meningkatkan efisiensi bahan bakar mobil. Salah satunya adalah voltage stabilizer atau penstabil tegangan listrik. Perangkat ini umumnya dipasang pada sistem kelistrikan kendaraan, terutama di sekitar aki. Klaim yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari membuat tegangan listrik lebih stabil, meningkatkan kinerja komponen kelistrikan, hingga membantu menghemat konsumsi bahan bakar. Voltage stabilizer Secara sederhana alat ini merupakan perangkat yang dirancang untuk membantu menjaga kestabilan tegangan listrik pada sistem kelistrikan kendaraan. Mobil memiliki banyak komponen yang membutuhkan pasokan listrik, mulai dari lampu, sistem audio, AC, hingga berbagai perangkat elektronik yang dikendalikan oleh komputer kendaraan. Ilustrasi voltage stabilizer Sumber listrik utama ketika mesin hidup berasal dari alternator, sementara aki berfungsi menyimpan energi listrik dan membantu memasok kebutuhan listrik kendaraan pada kondisi tertentu. Dalam kondisi normal, sistem pengisian kendaraan sudah dirancang untuk menjaga tegangan listrik pada rentang kerja yang sesuai. Karena itu, kondisi sistem kelistrikan kendaraan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika menilai manfaat perangkat tambahan. Testimoni Bengkel Kamal, Pemilik Bengkel Kafka di Bogor, mengatakan, perangkat yang dipasang pada sistem kelistrikan kendaraan tidak serta-merta membuat konsumsi BBM menjadi lebih hemat. Menurut Kamal, tak sedikit perangkat yang dipasang tidak memberikan pengaruh terhadap performa kendaraan. "Kalau nggak salah, yang zaman dulu itu yang dicolok ke lighter rokok cuma gimmick saja. Enggak ngaruh dan sudah saya buktikan, engga ada pengaruhnya sama sekali. Dia cuma kayak volt stabilizer untuk kelistrikan saja," ujarnya. Ilustrasi voltage stabilizer Sementara itu, Kamal membedakan perangkat yang dipasang pada aki dengan perangkat yang berhubungan langsung dengan sistem pengapian, seperti koil. "Jadi, kalau sesuatu yang dipasangnya di aki, itu bisa saya pastikan gimmick, Om. Tapi kalau yang dipasangnya ke koil (coil ignition), itu ada pengaruhnya," ujar Kamal. Menurut dia, persepsi mengenai perubahan tarikan atau konsumsi BBM setelah memasang perangkat tersebut juga dapat muncul dari pengalaman pemilik kendaraan setelah menggunakannya. "Jadi, alat-alat seperti itu lebih cenderung kepada sugesti si pemilik mobil. 'Oh iya, ternyata tarikannya lebih enteng. Oh, bensinnya lebih irit.' Paling hanya terasa seminggu atau dua minggu, selanjutnya akan terasa seperti biasa lagi. Jadi, lebih kepada sugesti," katanya. "Banyak yang datang ke bengkel pakai kabel-kabel grounding seperti itu, tetapi tidak berpengaruh. Saya lepas semua. Dipasang atau tidak, sama saja. Tidak ada perbedaan," ujarnya. Ilustrasi mesin mobil overheating Kondisi mobil Taqwa Suryo Swasono, tuner dan pendiri bengkel Garden Speed Motorsport yang berlokasi di kawasan Cilandak, mengatakan klaim peningkatan efisiensi perlu dilihat berdasarkan kondisi kendaraan yang digunakan dalam pengujian. Menurut dia, hasil pengujian pada satu kendaraan belum tentu menunjukkan hasil yang sama ketika perangkat tersebut dipasang pada mobil lain. "Soal voltage stabilizer alau ada yang mengklaim bisa meningkatkan efisiensi, misalnya sampai 30 persen, harus dilihat dulu pengujiannya dilakukan pada mobil apa dan dengan kondisi seperti apa," katanya. "Tesnya dilakukan di mobil apa, kilometernya berapa, dan apakah hasil tersebut valid untuk mobil yang berbeda?," katanya. Taqwa menjelaskan, kondisi sistem kelistrikan setiap kendaraan bisa berbeda. Pada kendaraan tertentu, terutama mobil yang sudah berusia lebih lama, kondisi tegangan bisa saja tidak sama dengan kendaraan yang sistem kelistrikannya masih dalam kondisi optimal. Teknisi bengkel resmi Peugeot sedang memeriksa aki mobil. "Pada beberapa mobil lama, atau beberapa mobil tertentu yang jumlahnya sangat minor, mungkin kondisi voltasenya memang berada di batas tengah atau sedikit ke bawah. Sementara pada mobil lain, tegangannya mungkin berada di tengah atau sedikit di atas," katanya. Dengan kondisi tersebut, jelas Taqwa, kenaikan tegangan pada kendaraan tertentu tidak otomatis berarti konsumsi BBM akan turun dalam jumlah yang sama. Terlebih, sistem kelistrikan kendaraan modern sudah memiliki komponen dan sistem pengisian yang dirancang untuk bekerja pada rentang tegangan tertentu. Analogi Taqwa memberikan analoginya seperti aplikasi foto di ponsel. Misalnya menggunakan ponsel dan memasang aplikasi kamera tertentu, hasil fotonya mungkin berubah jadi lebih baik. Ilustrasi mesin mobil overheating Namun, pada perangkat atau ponsel yang punya kamera mumpuni, pengaruh aplikasi tersebut mungkin tidak terlalu signifikan. Analogi tersebut menurut Taqwa, menunjukkan bahwa perangkat tambahan dapat memberikan hasil berbeda tergantung kondisi perangkat yang digunakan. "Begitu juga dengan voltage stabilizer. Kalau sistem kelistrikan kendaraan memang sudah bekerja dengan baik, pengaruh alat seperti itu kemungkinan minor," katanya. "Karena itu, harus divalidasi ulang dan dipastikan terlebih dahulu apakah alat tersebut memang bekerja pada kendaraan yang kita gunakan," ungkap Taqwa. Dalam konteks mobil, kondisi aki, alternator, sistem pengisian, serta komponen kelistrikan lainnya menjadi bagian yang perlu diperhatikan.