— Profesi sopir truk selama ini identik dengan laki-laki. Jam kerja panjang, rute jauh, dan tekanan pekerjaan menganggap profesi ini terlalu berat bagi perempuan. Namun kenyataannya, ada segelintir perempuan yang justru memilih hidup di balik kemudi truk dan menjalaninya dengan profesional. Salah satunya adalah Risma (25), sopir truk asal Banjarnegara, yang sudah mengenal dunia angkutan sejak remaja. “Dulu pertama ikut bapak. Dari waktu masih sekolah. Dari tahun 2014, bawa sayur ke Jakarta,” ujar Rismun panggilannya di Purwokerto, Jawa Tengah, akhir pekan lalu. Jambore Nasional XII Canter Mania Indonesia Community (JAMNAS XII CMIC) digelar selama dua hari pada 22?23 November 2025, di Purwokerto. Awalnya hanya ikut belajar, namun lama-kelamaan ia terbiasa dan menikmati aktivitas mengemudi. “Asik aja. Asik sambil healing, enggak ‘spaneng’ gitu,” kata Rismun yang biasa antar barang ke Jakarta. Ia memastikan pekerjaan ini tidak seberbahaya yang dibayangkan banyak orang. Selain rutenya teratur, ritme kerjanya juga tergolong stabil. “Seminggu dua kali. Paling satu kali pulang-pergi tiga hari,” ucapnya. Rismun juga menjelaskan bahwa ia dan rekannya biasanya bergantian mengemudi, terutama saat malam hari. Jambore Nasional XII Canter Mania Indonesia Community (JAMNAS XII CMIC), resmi digelar pada 22?23 November 2025 di GOR Satria, Kota Purwokerto. “Kalau malam kan gantian. Misal sebelah ngantuk ganti ke saya. Jamnya memang gak tentu,” katanya. Selain Rismun, ada juga Suci yang sudah cukup lama menjadi sopir truk. Menariknya, baik Suci maupun suaminya sama-sama berprofesi sebagai sopir truk. Suci bercerita bahwa ketertarikannya pada dunia truk sudah muncul sejak kecil. “Karena dari kecil suka mobil. Kebetulan suami juga, kayaknya saya pengen ikut aja. Kebetulan kan itu jiwaku. Akhirnya nyobain deh, pakai yang kosong dulu. Nanti kalau udah agak mendingan, kita coba bawa muatannya dari yang agak enteng. Eh lama-lama bisa,” tuturnya. Rute yang ditempuh Suci pun tidak main-main. Ia sudah pernah membawa barang hingga Pulau Sumatera dan Bali. Jambore Nasional XII Canter Mania Indonesia Community (JAMNAS XII CMIC) digelar selama dua hari pada 22?23 November 2025, di Purwokerto. “Paling jauh kalau Bali sama ke Batam. Kalau ke Batam itu sama ke Bali muatannya sama, AC,” katanya. Ia mengatakan kini lebih leluasa bekerja karena anaknya sudah cukup besar. “Kebetulan udah gede, udah bisa ditinggal,” ujarnya. Suci juga menyinggung dinamika sebagai sopir perempuan di tengah dominasi laki-laki. “Karena kan mungkin sebenernya dari pribadi. Kayak kita sebagai supir, supir cewek. Seperti saya saja, kalau udah nikah sama suami itu aku pasti ikut,” katanya. Truk ceper di acara Jambore Nasional XII Canter Mania Indonesia Community (JAMNAS XII CMIC) Menurutnya, ikut suami dalam perjalanan justru membuatnya merasa lebih aman dan nyaman, meski ia menyadari kadang situasi di lapangan bisa membuat perempuan merasa canggung. Apapun itu, kehadiran para sopir truk perempuan seperti Rismun dan Suci membuktikan bahwa dunia logistik tidak sepenuhnya milik laki-laki. Di balik kabin truk yang besar dan rute panjang, ada perempuan yang mampu beradaptasi, berkarya, dan menikmati profesinya, menjadikannya bagian dari perjalanan hidup mereka. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang