Octane booster merupakan bahan tambahan yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan bahan bakar dalam menahan knocking atau pembakaran tidak terkendali di dalam mesin. Produk yang dijual di pasaran memiliki formulasi yang beragam. Bahan peningkat oktan sendiri dapat berasal dari beberapa kelompok senyawa, termasuk yang berbasis logam (metallic) dan non logam (non-metallic). Salah satu contoh bahan peningkat oktan berbasis logam adalah methylcyclopentadienyl manganese tricarbonyl (MMT) yang mengandung mangan. Sedangkan salah satu contoh senyawa nonlogam sebagai bahan peningkat oktan yaitu N-methylaniline (NMA) "Nah, yang perlu diperbolekan, itu yang basisnya bukan metallic. Misalnya, apa yang dikenal ya NMA, N-Methylaniline," kata Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yus Widjajanto, kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2026). Ilustrasi octane booster Penggunaan Salah satu keunggulan bahan peningkat oktan nonlogam adalah tidak membawa unsur logam dalam proses pembakaran. Karakteristik tersebut berbeda dengan aditif peningkat oktan berbasis logam. Meski demikian, penggunaannya bukan berarti tanpa keterbatasan. "Cuma ada batasnya juga, anilin tidak boleh dipakai lebih dari 2 persen," kata Tri. "Artinya, kalau kita ingin meningkatkan oktan tapi membutuhkan NMA lebih dari 2 persen, itu berbahaya juga. Berbahayanya apa? Deposit di puncak piston atau permukaan piston dan di cylinder head itu naik," katanya. "Akibatnya, kompresinya naik. Tapi kalau terlalu tebal, pistonnya bisa mentok ke cylinder head, sehingga akan menyebabkan connecting rod-nya bengkok," ujarnya. Zat aditif atau octane booster keluaran Bardahl "Jadi, masing-masing punya kekurangan, punya keunggulan, dan punya keterbatasan juga," katanya. Oktan Penggunaan octane booster pada dasarnya bukan hanya soal seberapa tinggi angka oktan dapat dinaikkan. Jenis bahan yang digunakan, konsentrasinya, formulasi bahan bakar, hingga kesesuaiannya dengan mesin juga perlu diperhatikan. Klaim octane booster mampu menaikkan angka oktan juga tidak otomatis berarti konsumsi BBM akan turun, karena efisiensi kendaraan dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya termasuk desain mesin, kondisi kendaraan, kualitas bahan bakar, dan pola berkendara.