Tren perkembangan teknologi otomotif saat ini membuat pilihan kendaraan semakin beragam. Mulai dari mobil transmisi manual, otomatis atau matik, hingga mobil listrik murni alias Electric Vehicle (EV) kini semakin jamak berlalu-lalang di jalan raya. Bagi sebagian orang, berganti-ganti jenis mobil mungkin dianggap sebagai perkara mudah. Namun dari kacamata keselamatan berkendara, mendadak mengemudikan jenis kendaraan yang berbeda tanpa adanya adaptasi ternyata menyimpan potensi bahaya laten yang cukup besar. Mengenal Bahaya Unfamiliar Tasking Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, menjelaskan, salah satu pemicu terjadinya kecelakaan di jalan raya adalah gangguan konsentrasi akibat ketidakbiasaan pengemudi terhadap situasi atau kendaraan yang dibawa. test drive iCar V23 di Bogor Di dalam dunia keselamatan, kondisi ini dikenal dengan istilah unfamiliar tasking. "Unfamiliar tasking ini adalah salah satu distraksi juga," ujar Jusri kepada Kompas.com, belum lama ini. Jusri memaparkan, gangguan ini sering kali terjadi ketika seseorang dipaksa untuk mengoperasikan jenis transmisi atau teknologi mobil yang berbeda dari kebiasaan sehari-harinya. Karakteristik kendaraan yang berubah drastis otomatis akan memecah fokus pengemudi saat mobil sedang melaju. "Misalnya dia biasa bawa manual, tahu-tahu disuruh bawa matik yang tidak biasa, atau sebaliknya bawa matik tahu-tahu dia bawa manual," kata Jusri. "Atau unfamiliar ini bisa saja mobil-mobil ICE yang dia biasa gunakan, tiba-tiba dia harus bawa pilihan mobil EV. Itu mempunyai karakter berbeda," lanjutnya. Mengapa Karakter Mobil Baru Bisa Memecah Fokus? Setiap jenis kendaraan memiliki karakter respons mekanis yang tidak sama. Sebagai contoh, mobil listrik memiliki torsi instan yang sangat responsif, jauh berbeda dengan mobil konvensional. Di sisi lain, penempatan tombol-tombol fitur, tuas transmisi, hingga sistem pengereman di dasbor mobil modern atau EV saat ini rata-rata sudah berbasis layar sentuh dan digital. Ketidakbiasaan pengemudi terhadap instrumen baru inilah yang berpotensi memicu distraksi visual maupun motorik di dalam kabin. Alih-alih fokus melihat situasi lalu lintas di depan, perhatian pengemudi justru teralih karena bingung atau kikuk dalam mengoperasikan fitur kendaraan baru tersebut. Jusri mengingatkan bahwa mengemudi adalah pekerjaan yang masuk ke dalam kelompok risiko tinggi. Oleh sebab itu, tingkat konsentrasi yang dibutuhkan tidak boleh terbagi sedikit pun. "Ketika seseorang melakukan sesuatu tugas, kemudian dia terganggu, itu akan memecahkan konsentrasinya. Ketika dia tidak konsentrasi, maka fokusnya terhadap tugas-tugas pengemudinya akan blur dan otomatis ini membahayakan," kata Jusri. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang