Kecelakaan maut yang terjadi di Gunung Bromo belum lama ini menjadi sorotan banyak orang. Pasalnya, kejadian tersebut membuat banyak orang mempertanyakan kondisi jip yang digunakan oleh para agen wisata. Jip wisata yang biasa digunakan untuk mendaki di Gunung Bromo dan menjelajahi obyek-obyek wisata di sekitarnya mengalami kecelakaan tunggal. Jip tersebut dilaporkan menabrak tebing hingga terbalik. Insiden ini pun menjadi alarm keras bagi industri pariwisata, khususnya penyedia jasa transportasi di kawasan alam terbuka. Kondisi Hardtop yang menabrak tebing di jalur menuju wisata Gunung Bromo, tepatnya di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur yang menewaskan 2 orang, sopir dan penumpang, Jumat (29/5 /2026). Wisatawan Tidak Punya Pilihan Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, mengatakan, permasalahannya adalah para wisatawan tidak bisa memilih jip yang akan digunakan, mana yang sekiranya kondisinya sehat atau layak jalan. Sistem operasional di lapangan sering kali menggunakan metode antrean acak atau bergilir, sehingga wisatawan tidak memiliki kontrol untuk menolak kendaraan yang tampak kurang prima. "Setahu saya tidak bisa, sudah diatur urutannya (oleh agen). Dulu yang di Bromo sudah berdasarkan nomor urut antreannya," katanya. Kondisi kendaraan jip Hardtop usai menabrak tebing di jalir turunan yang ekstrem di jalur wisata Gunung Bromo, tepatnya di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (29/5/2026). Faktor Psikologis dan Kondisi Jip Tua Selain faktor kelaikan armada, faktor manusia atau human error juga memegang peranan krusial. Karakteristik wisatawan yang datang untuk bersenang-senang kerap memicu adrenalin pengemudi di luar batas aman. "Aktivitas dan euforia dari penumpang yang kadang suka membuat suasana lebih, membuat pengemudi bersemangat dan agresif dalam mengemudinya, ini bahaya! Kembali lagi kepada kompetensi pengemudinya dalam mengontrol diri dan emosinya," ujarnya. Menaiki mobil Jip menuju Kawasan Pantai di Desa Wisata Tepus, Gunungkidul Sifat agresif di balik kemudi ini menjadi kian fatal ketika disandingkan dengan kondisi armada jip wisata Bromo yang mayoritas merupakan mobil pekerja keras berusia uzur. Penggerak empat roda (4x4) saja dinilai tidak cukup tanpa adanya perawatan yang komprehensif. "Harusnya semua dalam kondisi sehat dan terawat. Masalahnya itu jip-jipnya kan tahunnya sudah tua-tua, hanya modal 4x4 saja," ujar Sony. Jip di Bromo disewa wisatawan menikmati keindahan alam. Desakan untuk Pemerintah Daerah Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini tidak bisa dibebankan kepada para pemilik jip atau paguyuban lokal semata. Intervensi dari pemangku kebijakan tertinggi di daerah sangat mutlak diperlukan demi menjamin keselamatan publik. "Dinas Pariwisata dan Pemda harus turun tangan benahi printilan-printilan yang kayak gini-gini. Memang ada fasilitas-fasilitas penunjang di obyek wisata tersebut, tapi tetap safety harus yang utama," kata Sony. Sony menambahkan, permasalahannya adalah para wisatawan tidak bisa memilih jip yang akan digunakan, mana yang sekiranya kondisinya sehat atau layak jalan. Wisatawan mengendarai mobil jip saat mengikuti wisata lava tour di kaki Gunung Merapi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, beberapa waktu lalu. "Setahu saya tidak bisa, sudah diatur urutannya (oleh agen). Dulu yang di Bromo sudah berdasarkan nomor urut antreannya," katanya. "Aktivitas dan euforia dari penumpang yang kadang suka membuat suasana lebih, membuat pengemudi bersemangat dan agresif dalam mengemudinya, ini bahaya! Kembali lagi kepada kompetensi pengemudinya dlm mengontrol diri dan emosinya," ujarnya. Wisatawan mengendarai mobil jip saat mengikuti wisata lava tour di kaki Gunung Merapi, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (17/5/2013). Wisata mengunjungi daerah bekas aliran lava erupsi Merapi ini dipungut biaya Rp 300.000 - Rp 500.000 per trip. "Harusnya semua dalam kondisi sehat dan terawat. Masalahnya itu jip-jipnya kan tahunnya sudah tua-tua, hanya modal 4x4 saja," ujar Sony. "Dinas Pariwisata dan Pemda harus turun tangan benahi printilan-printilan yang kayak gini-gini. Memang ada fasilitas-fasilitas penunjang di obyek wisata tersebut, tapi tetap safety harus yang utama," kata Sony. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang