Biaya perbaikan mobil kerap menjadi sumber persoalan antara konsumen dan bengkel. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kesepakatan yang jelas mengenai pekerjaan, estimasi biaya, hingga tanggung jawab apabila perbaikan tidak berjalan sesuai rencana. Ketua Umum Persatuan Bengkel Otomotif UMKM Indonesia (PBOIN) Hermas Efendi Prabowo mengingatkan konsumen agar berhati-hati terhadap kemungkinan munculnya biaya tambahan setelah kendaraan masuk bengkel. Menurut dia, pemilik mobil sebaiknya meminta gambaran estimasi biaya sebelum pekerjaan dimulai. "Terkait dengan asal ketok harga atau tidak, konsumen harus hati-hati. Caranya bagaimana? Caranya ya tentu meminta estimasi di awal untuk perbaikan item tertentu, kira-kira perbaikannya berapa," ujar Hermas, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Jangan Menunggu Mobil Dibongkar Estimasi biaya perlu dibicarakan sebelum proses perbaikan dilakukan, terutama sebelum komponen kendaraan dibongkar. Bengkel spesialis mobil matik Worner Matic. Hermas mengatakan, setelah mobil berada dalam kondisi terbongkar, posisi tawar pemilik kendaraan dapat menjadi lebih lemah. "Jangan sampai setelah dikerjakan atau setelah dibongkar, kan posisi tawar pemilik mobil kan jadi lebih rendah. Tetapi kalau sebelum dibongkar sudah ada estimasi dan estimasi itu rasional, ya tentu itu lebih baik," kata Hermas. Estimasi tersebut memang bukan berarti biaya akhir tidak dapat berubah sama sekali. Namun, konsumen setidaknya memiliki gambaran mengenai kemungkinan biaya yang harus dikeluarkan serta dasar perhitungan yang digunakan bengkel. Kesepakatan Sebaiknya Tertulis Selain membicarakan estimasi biaya, Hermas menyarankan agar kesepakatan antara konsumen dan bengkel tidak hanya dilakukan secara lisan. Hal-hal penting terkait pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing pihak sebaiknya dituangkan secara tertulis. Bengkel spesialis mobil matik Worner Matic. "Kesepakatan di awal itu sebaiknya dilakukan secara tertulis, jangan sekedar lisan, jadi betul-betul tertulis. Apa yang diberikan oleh bengkel, apa tanggung jawab yang diberikan bengkel, ketika terjadi kegagalan dalam perbaikan, risikonya siapa yang harus menanggung," ujar Hermas. Kejelasan tersebut penting untuk menghindari perbedaan pemahaman setelah proses perbaikan berlangsung. Pemilik kendaraan juga perlu mengetahui bagaimana skema pembayaran apabila pekerjaan tidak dapat diselesaikan sesuai rencana. "Ketika perbaikan itu tidak jadi, misalnya, bagaimana dengan kesepakatan pembayaran atau biayanya, jadi semua harus jelas di awal. Selain itu juga yang penting juga tingkat kualitas yang dicapai," kata Hermas. Bengkel spesialis mobil matik Worner Matic. Harga Berbeda, Kualitas Bisa Berbeda Menurut Hermas, konsumen juga perlu memahami bahwa perbedaan harga antar-bengkel tidak selalu berarti salah satu pihak melakukan ketok harga. Biaya perbaikan dapat berbeda karena kualitas pekerjaan, penggunaan suku cadang, serta standar hasil yang ditawarkan. "Misalnya dengan biaya A, konsumen akan mendapatkan kualitas yang seperti apa, misalnya sama-sama bongkar mesin atau overhaul mesin, kenapa terjadi perbedaan harga, kadang cukup signifikan, itu kan berkaitan dengan kualitas," ujar Hermas. Karena itu, konsumen perlu menanyakan secara rinci komponen apa yang digunakan dan seperti apa standar pekerjaan yang akan diterima. Bengkel spesialis mobil matik Worner Matic. Pastikan Ada Kejelasan Garansi Hal lain yang tidak kalah penting adalah garansi setelah pekerjaan selesai. Konsumen perlu mengetahui siapa yang bertanggung jawab apabila masalah yang sama kembali muncul atau terjadi kegagalan setelah perbaikan. "Apakah penggunaan suku cadangnya seperti apa, apakah setelah perbaikan ada jaminan garansi pasca perbaikan. Misalnya, kalau terjadi kebocoran dengan oli mesin, siapa yang harus bertanggung jawab, mekanisme klaimnya seperti apa, apakah memungkinkan untuk klaim garansi, poin-poin apa saja yang disepakati dalam klaim garansi itu. Jadi, hal-hal itu harus diselesaikan di awal supaya tidak timbul ketegangan atau miskomunikasi di kemudian hari," ujarnya. Dengan adanya estimasi biaya, kesepakatan tertulis, serta kejelasan mengenai kualitas dan garansi, konsumen memiliki dasar yang lebih kuat sebelum menyerahkan mobil kepada bengkel. Langkah tersebut juga dapat membantu mengurangi potensi perselisihan ketika hasil perbaikan tidak sesuai dengan harapan atau muncul persoalan baru setelah kendaraan digunakan.