rata mobil listrik secara global tercatat lebih rendah dibandingkan mobil hybrid (HEV). Kondisi ini menunjukkan kendaraan listrik mulai semakin kompetitif dari sisi harga, terutama didorong oleh penurunan biaya baterai dan ekspansi China. Penyedia data otomotif Mobility Global mencatat, harga rata-rata mobil listrik pada 2025 sekitar 37.000 dollar AS atau setara Rp 659,2 juta. Angka tersebut turun 9 persen dibandingkan 2020. Sementara harga rata-rata HEV justru meningkat 16 persen dalam periode yang sama menjadi sekitar 39.000 dollar AS atau Rp 694,9 juta. Ilustrasi mobil listrik. Pemerintah kembali menerapkan insentif pajak yang ditanggung pemerintah untuk pembelian kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada tahun 2025. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu. Data tersebut menggunakan harga kendaraan sebelum subsidi dan dihitung berdasarkan volume penjualan, dikutip dari Nikkei Asia, Senin (10/8/2026). Baterai Jadi Penentu Harga yang relatif tinggi selama ini menjadi salah satu hambatan adopsi mobil listrik. Penurunan biaya baterai kemudian membuat posisi kendaraan listrik semakin kompetitif terhadap mobil bermesin konvensional maupun hybrid. Baterai lithium-ion menyumbang sekitar 30-40 persen dari biaya sebuah mobil listrik. BloombergNEF memperkirakan harga baterai kendaraan penumpang turun 37 persen sepanjang 2020 hingga 2025. China menjadi salah satu faktor utama di balik penurunan tersebut. Negara itu menguasai sekitar 80 persen pasar baterai global dan memiliki kapasitas produksi yang besar. Produsen juga semakin banyak menggunakan baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak membutuhkan kobalt. Teknologi ini sebelumnya memiliki kepadatan energi lebih rendah, tetapi terus berkembang sehingga semakin menarik digunakan untuk menekan biaya produksi. Renault dan Volkswagen menjadi sejumlah pabrikan yang telah menyatakan akan menggunakan baterai LFP pada kendaraan mereka. Ilustrasi mobil di China. Pabrikan China Perluas Pasar Tekanan persaingan di pasar domestik China turut mendorong produsen lokal berekspansi ke luar negeri. Keunggulan biaya diperkuat dengan rantai pasok yang terintegrasi, mulai dari baterai hingga berbagai komponen kendaraan. Data China Association of Automobile Manufacturers menunjukkan ekspor mobil listrik China mencapai 1,64 juta unit pada 2025. Sebagai pembanding, ekspornya pada 2020 masih kurang dari 100.000 unit. Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang dibidik. Thailand bahkan telah menarik investasi dari sejumlah produsen China, termasuk BYD dan Great Wall Motor yang membangun fasilitas produksi di negara tersebut. Merek China kini mencakup hampir 30 persen penjualan mobil baru di Thailand. Di sejumlah negara Asia Tenggara dan Amerika Selatan, harga mobil listrik juga sudah lebih rendah dibandingkan HEV. "Pemain China telah menumbuhkan pangsa pasar mereka dengan fokus pada mobil listrik kompak bervolume penjualan tinggi, tetapi mereka telah memperluas lini produk dengan model besar dan kelas atas yang bermargin lebih besar," kata Yoshiaki Kawano, associate director Mobility Global. Mobil buatan China menunggu untuk di ekspor di pelabuihan Dalian, China Perubahan tersebut ikut memengaruhi strategi pabrikan Jepang yang selama ini mengandalkan teknologi hybrid. Toyota, misalnya, mempertahankan pendekatan Multi-Pathway dengan menawarkan berbagai teknologi elektrifikasi sesuai karakteristik masing-masing pasar. Sementara Nissan mulai memproduksi mobil listrik di China untuk kemudian diekspor ke pasar lain. Di sisi lain, permintaan kendaraan listrik global diperkirakan masih akan tumbuh. Kenaikan harga bensin akibat konflik di Timur Tengah turut mendorong minat terhadap kendaraan yang menggunakan energi listrik. International Energy Agency (IEA) memperkirakan mobil listrik dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) akan menyumbang sekitar 30 persen dari penjualan kendaraan global pada 2026.